MADANINEWS.ID, Makkah – Di tengah padang pasir yang luas, pada tahun ke-10 Hijriah, Nabi Muhammad SAW melaksanakan satu-satunya haji dalam hidupnya. Haji ini dikenal sebagai Haji Wada, atau Haji Perpisahan. Bukan sekadar ibadah, melainkan momen spiritual mendalam yang mengisyaratkan bahwa misi kerasulan Nabi hampir usai.
Dalam program dakwah terakhirnya ini, Nabi tidak hanya membawa umat untuk menyempurnakan rukun Islam, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan penting yang menjadi warisan peradaban.
“Mungkin Aku Tak Akan Bertemu Lagi…”
Sebelum berangkat, Nabi ﷺ sempat berkata kepada sahabatnya, Mu’adz bin Jabal:
“Ya Mu’adz, engkau mungkin tidak akan bertemu dengan aku setelah tahun ini, dan mungkin engkau akan melewati masjidku ini dan makamku.”
Ucapan itu memberi isyarat bahwa ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi perjalanan perpisahan.
Nabi mengenakan ihram di Dzulhulaifah, dan di tempat itulah wahyu turun:
«أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ، وَقُلْ: عُمْرَةٌ فِي حَجَّةٍ»
“Tadi malam aku didatangi utusan dari Tuhanku dan berkata: ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini, dan katakan: Umrah dalam haji.’”
Puncak di Arafah: Pesan yang Menggetarkan
Puncak dari Haji Wada adalah Khutbah Arafah yang disampaikan Nabi SAW di atas unta Al-Qaswa di hadapan lebih dari seratus ribu umat. Ia membuka khutbahnya dengan kalimat:
«أيها الناس، اسمعوا قولي، فإني لا أدري لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا بهذا الموقف أبدا»
“Wahai manusia, dengarkan perkataanku. Aku tidak tahu apakah aku akan bertemu dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini.”
Nabi lalu menegaskan nilai-nilai utama dalam Islam, seperti larangan menumpahkan darah tanpa hak, menjaga harta dan kehormatan sesama, serta memperhatikan hak-hak perempuan:
«اتقوا الله في النساء، فإنكم أخذتموهن بأمان الله»
“Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanah dari Allah.”
Khutbah ini ditutup dengan kalimat monumental:
«أيها الناس، إنه لا نبيّ بعدي، ولا أمة بعدكم، ألا فاعبدوا ربكم، وصلوا خمسكم، وصوموا شهركم، وأدوا زكاة أموالكم، طيبة بها أنفسكم، وتحجوا بيت ربكم، وأطيعوا أولي أمركم، تدخلوا جنة ربكم»
“Wahai manusia, tidak ada nabi setelahku, dan tidak ada umat setelah kalian. Maka sembahlah Tuhanmu, salatlah lima waktu, puasalah di bulan Ramadan, tunaikan zakat hartamu dengan hati yang rela, berhajilah ke Baitullah, dan taatilah pemimpin kalian—maka kalian akan masuk surga Tuhan kalian.”
Setelah menyampaikan khutbahnya, Nabi meminta kesaksian para sahabat, dan mereka mengiyakan bahwa mereka telah menerima seluruh ajaran Islam. Tak lama kemudian, turunlah wahyu yang menandai kesempurnaan agama Islam:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ، وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي، وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ دِينًا
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Umar bin Khattab menangis ketika mendengarnya. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
“Aku tahu, jika agama ini sudah sempurna, maka waktunya Nabi kita akan segera berakhir.”
Haji Terakhir, Kenangan Abadi
Setelah Arafah, Nabi menuju Muzdalifah, lalu ke Mina untuk melontar jumrah. Semua manasik diselesaikan dengan teladan sempurna. Di akhir haji, beliau melakukan Tawaf Wada—tawaf perpisahan dengan Ka’bah dan umatnya.
Tak ada ucapan selamat tinggal dari lisan beliau saat itu, tapi umat tahu: ini adalah momen terakhir bersama Nabi tercinta.
Setelah haji, Nabi kembali ke Madinah. Tidak untuk beristirahat, tapi untuk terus melanjutkan dakwah. Namun tak lama setelah itu, Nabi jatuh sakit, dan akhirnya wafat beberapa bulan kemudian.
