Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Mabit di Muzdalifah dan Mina, Wajib Haji yang Sarat Doa dan Harapan

Abi Abdul Jabbar Sidik
2 June 2025 | 09:00
rubrik: Haji & Umrah, Manasik
Efektif Urai Kepadatan Jemaah, Kemenag Matangkan Kebijakan Murur dan Tanazul untuk Haji 2025

Jemaah Haji saat Mabit di Muzdalifah. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, Makkah – Jemaah haji akan menjalani salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji, yaitu mabit di Muzdalifah dan Mina. Dua wajib haji ini dilaksanakan mulai malam 10 Zulhijjah hingga 13 Zulhijjah. Musytasyar Dini PPIH Arab Saudi, KH M. Ulinnuha, menjelaskan makna, hukum, dan teknis pelaksanaannya.

“Pada Kamis, 5 Juni 2025 atau 9 Zulhijjah, jemaah haji akan wukuf di Arafah. Kemudian malam tanggal 10 Zulhijjah, seluruh jemaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk Mabit (menginap),” jelas KH Ulinnuha dalam siaran persnya, Jumat (30/5/2025).

Mengutip Al-Baqarah ayat 198, KH Ulinnuha menyebut mabit di Muzdalifah memiliki dasar langsung dalam Al-Qur’an:

فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ

Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam” (QS. Al-Baqarah: 198).

Yang dimaksud Masy’aril Haram dalam ayat tersebut adalah Muzdalifah. Secara bahasa, Muzdalifah berasal dari kata al-Izdilaf yang berarti berkumpul. “Karena Nabi Adam dan Siti Hawa berkumpul di sini, maka tempatnya disebut sebagai Muzdalifah,” jelasnya.

KH Ulinnuha menambahkan bahwa praktik mabit di Muzdalifah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat Haji Wada’. Saat itu, Nabi tiba di Muzdalifah, lalu meminta Bilal bin Rabah mengumandangkan azan, kemudian beliau salat magrib dan isya secara jama’.

“Sejak saat itu, maka menurut pandangan mayoritas ulama, mabit di Muzdalifah menjadi wajib. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia dikenakan membayar dam,” katanya.

Selama di Muzdalifah, jemaah dianjurkan memperbanyak zikir dan menyiapkan kerikil untuk lontar jumrah.

“Walaupun secara teknik, kerikil ini sudah disediakan oleh syarikah, namun tidak ada salahnya apabila jemaah mengambil kerikil di Muzdalifah untuk mengikuti sunah rasul,” ujarnya.

See also  Tegas! Arab Saudi Tindak 1.800 Travel Haji Umrah Asing yang Tak Profesional

Jumlah kerikil yang diambil disesuaikan dengan jenis nafar. Jemaah nafar awal menyiapkan 49 butir, sedangkan nafar tsani menyiapkan 70 butir. Jika khawatir kurang, jemaah disarankan mengambil lebih.

Waktu mabit di Muzdalifah adalah malam 10 Zulhijjah sampai tengah malam menjelang subuh. “Namun secara teknik pergerakan, nanti akan diatur oleh pemerintah sesuai dengan jadwal dari syarikah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pergerakan jemaah,” terang Ulinnuha.

Setelah mabit di Muzdalifah, jemaah bergerak menuju Mina. Menurut KH Ulinnuha, Mina berasal dari kata muna yang berarti harapan.

“Semua harapan ditumpahkan jemaah haji kepada Allah. Maka kita diminta untuk memperbanyak doa kepada Allah Swt,” katanya.

Di Mina, jemaah melempar jumrah aqabah pada 10 Zulhijjah sebanyak tujuh kali. Setelah itu, mereka boleh melakukan tahallul awal dengan mencukur rambut.

Setelah tahallul awal, jemaah diperbolehkan mengenakan pakaian biasa dan bebas dari larangan ihram, kecuali berhubungan suami istri. “Bagi pasutri yang statusnya masih tahallul awal, maka belum boleh berjimak hingga melakukan tahallul tsani setelah tawaf Ifadah,” jelasnya.

Usai tawaf Ifadah, jemaah kembali ke Mina untuk mabit pada malam 11 dan 12 Zulhijjah (nafar awal), atau hingga malam 13 Zulhijjah bagi nafar tsani. Pada 11 dan 12 Zulhijjah, jemaah nafar awal melakukan lontar jumrah ula, wustho, dan aqabah masing-masing tujuh kali. Sedangkan jemaah nafar tsani menuntaskan semua prosesi hingga tanggal 13 Zulhijjah.

“Setelah semua mabit dan jamarat selesai, maka jemaah akan kembali ke hotel masing-masing di Makkah,” jelasnya.

Tags: armuznamabit minamabit muzdalifahPuncak Hajirukun haji
Previous Post

Ingin Haji Tanpa Visa Resmi, WNI Meninggal di Gurun Dekat Makkah

Next Post

Setelah Negosiasi, Tim Medis Indonesia Kembali Diizinkan Rawat Jemaah Haji di KKHI

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks