IBADAH.ID, Jakarta – Konferensi Internasional tentang Fatwa dan Isu- Isu Kontemporer yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta berakhir Ahad (22/7).
“Konferensi tersebut telah menghasilkan sepuluh rekomendasi yang di antaranya menekankan agar senantiasa ada hubungan dan koordinasi di antara lembaga-lembaga fatwa di dunia Islam seiring terus munculnya masalah-masalah baru,” papar Sekretaris Panitia Pelaksana, Dr Andi Hadiyanto MA dalam siaran pers yang diterima ibadah.id Senin (23/07).
Menurut Andi fatwa harus menjadi pengetahuan yang independen, tidak terkait dengan kepentingan politik dan sebagainya.
“Konferensi itu juga merekomendasikan, hendaknya ilmu tentang fatwa diajarkan di kampus-kampus dan pondok-pondok pesantren, khususnya pondok-pondok pesantren yang mengkader calon hakim agama, imam masjid dan penceramah,” ujarnya.
Konferensi Internasional Tentang Fatwa dan Problematika Kontemporer yang beralngsung selama tiga hari dari Jumat (20/07) tersebut menampilkan nara sumber para ulama terkemuka dari berbagai negara. Baik negara-negara di Timur Tengah, Australia, Rusia, Ukraina, dan Indonesia.
Pada penutupan konferensi para peserta dijamu makan siang oleh Dubes Qatar untuk Indonesia, Ahmad Bin Jassim Mohammed Ali Al-Hamar.
Para peserta yang hadir pada jamuan makan siang tersebut adalah Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, KH A Syarifuddin Abdul Ghani MA, beserta jajaran panitia; Prof Syeikh Abdurazak Abdurahman Assa’di (Rusia), Prof Dr Muhammad Rawasydah (Yordania), Prof Adnan Assaf (Yordania), Syekh Dr Sa’dudin al Kabi (Libanon), dan Dr Rasyid al Haritsy (Oman).
Ada pula, Dr Haj Abdullah Dulabi (Iran), Syeikh Bilal Alabdaly (Irak), Syeikh Hasan Almanshuri (Irak), Dr Abdul Hamid Hilali (Maroko), Dr Fuad Assufy (Yaman), Dr Fuad Assufy (Yaman), dan Dr Muhammad Jawad As`ady (Iran).
