IBADAH.ID, Madinah – Pemberangkatan jamaah haji Indonesia telah memasuki hari ke tujuh sejak dimuali pada Selasa, (17/07/2018) lalu. Sudah lebih dari 80 kloter di berangkatkan menuju Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz Madinah
Dalam kurun waktu kurang dari seminggu masa gelombang pertama jamaah haji Indonesia di Madinah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mencatat hampir 500 jamaah tersesat di kompleks Masjid Nabawi.
Berdasarkan data Seksi Perlindungan Jamaah (Linjam) Daker Madinah sebanyak 169 jamaah tersesat pada Ahad (22/7) hingga pukul 18.00 waktu setempat. Dengan jumlah itu, total jamaah yang tersesat sejak awal kedatangan jamaah telah mencapai 497 orang.
“Dan itu jumlah yang dilaporkan. Jumlah riilnya bisa lebih banyak,” ujar Kasi Linjam Daker Madinah, Maskat Ali Jasmun di Madinah Minggu (22/07/2018) malam waktu setempat.
Maskat menuturkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan jamaah tersesat. Namun kebanyakan, karena faktor usia yang sudah lanjut dan mempengaruhi ingatan jamaah.
Maskat pun menyampaikan beberapa saran untuk jamaah haji, khususnya jamaah yang masih di Tanah Air. Ia mengingatkan, sesampai di hotel di Madinah, upayakan langsung meminta kartu hotel yang disiapkan di resepsionis, ketika mau berangkat ke Masjid Nabawi.
“Lihat tanda-tanda medan. Ingat ada gedung, atau tanda-tanda khusus. Di foto aja,” kata Maskat.
Ketika berangkat ke masjid usahakan juga selalu berkelompok ketika berangkat ke masjid maupun ingin kembali ke hotel. Jamaah juga sebaiknya memasuki dan keluar dari Masjid Nabawi melalui pintu yabg sama yang bisa dikenali melalui nomornya.
Jika sudah telanjur keluar Masjid Nabawi dan kebingungan, jamaah bisa langsung mencari petugas yang bisa dikenali dengan kemeja putih, rompi hitam, dan bendera Indonesia. Jamaah juga bisa mencari salah satu dari lima pos sektor yang tersebar di Masjid Nabawi. Bila tak berhasil menemukan, jamaah bisa menuju pos yang ditunggui petugas di pintu 21, 15, 37 dan di dekat Raudhah untuk jamaah perempuan.
“Semua apabila kebingungan mereka siap mengantarkan ke kantor sektor atau kediaman jemaah,” katanya.
Sementara itu menurut Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Eka Jusuf Singka, usia lanjut bukan faktor utama yang menyebabkan jamaah haji tersesat. Eka menilai situasi tersesat tergantung terhadap pemahaman orientasi waktu dan tempat. Orang-orang yang dalam kondisi bugar, menurutnya juga dapat mengalami disorientasi waktu.
“Saat mengalami dehidrasi bisa saja mengalami kelupaan tempat atau tersesat,” papar Eka.
Untuk menghindari tersesat, Eka menyarankan kepada jemaah untuk tak bepergian sendirian ke masjid. Jika tak yakin dengan arah pulang jamaah sebaiknya duduk saja dan menunggu jamaah Indonesia lainnya atau petugas haji.
