Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Haedar Nashir : Setiap Kepemimpinan Akan Selalu Diuji dengan Krisis Multidimensi

Abi Abdul Jabbar Sidik
13 September 2021 | 12:00
rubrik: Islamika, Renungan Hati
Milad ke 45, Ketum PP Muhammadiyah Harap Tetap Istiqomah Mencerahkan Umat

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (foto:muhammadiyah)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai masalah krusial bangsa Indonesia di tengah pandemi yang harus segera diatasi ialah konsistensi kebijakan pemerintah, mentalitas masyarakat terhadap disiplin prokes, dan menguatnya polarisasi politik dan ideologi.

“Masalah-masalah ini jika tidak dimanage secara baik itu nanti akan menambah berat bangsa kita. Satu sisi harus menghadapi Covid-19 dengan segala dampaknya, dan sisi lain menyangkut masalah-masalah yang tadi saya sebutkan itu. Ini menjadi ujian bagi kita mengahadapi beban berat pandemi,” terang Haedar dalam acara One On One yang diselenggarakan MNC News Room pada Sabtu malam (11/09).

Haedar mengutarakan bahwa pandemi menguji bangsa kita seberapa kuat akan bertahan dan seberapa jauh akan melangkah. Kepemimpinan yang kurang optimal dan kebijakan yang inkonsisten hanya akan menambah daftar beban dampak dari wabah Covid-19. Karenanya, Haedar mengajak semua pihak harus benar-benar belajar dari Covid-19 agar bersatu dan berjuang bersama-sama.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini kemudian menerangkan bahwa pasca reformasi, lanskap kepemimpinan mengalami perubahan terutama setelah diberlakukannya UU No. 31 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Singkatnya, otonomi daerah adalah kebijakan untuk mengatur daerahnya sendiri. Akibat dari adanya desentralisasi atau otonomi daerah ini, kata Haedar, sulitnya mengatur hubungan kerjasama antara pemerintahan pusat dan daerah.

“Dengan otonomi daerah hampir-hampir kita mendekati federasi. Sehingga, antar-lini kepemimpinan daerah dan pusat itu tidak mudah memanage. Lebih-lebih kalau ada nuansa setiap kepala daerah hasrat-hasrat politik yang individual maupun kolektif yang mungkin dalam situasi normal wajar tapi dalam situasi sekarang sungguh ironi,” kata Haedar.

etiap kepemimpinan akan diuji dengan berbagai krisis. Ujian tersebut akan menentukan sukses atau tidaknya seorang pemimpin. Bila dapat menemukan solusi-solusi cerdas mengatasi berbagai ujian, maka kepemimpinannya akan dikenang zaman. Karenanya, kata Haedar, setiap orang jangan merasa paling hebat tanpa berusaha untuk introspeksi apakah kepemimpinannya berada di jalur maslahat atau mudharat.

See also  Muhammadiyah: Pasien OTG Corona Tak Wajib Jalankan Puasa
Tags: Haedar nashirPP Muhammadiyah
Previous Post

Kontribusi ZISWAF dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Next Post

Bank Syariah Indonesia Operasikan Kantor Cabang Digital di Gedung The Tower Jakarta

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks