MADANINEWS.ID, JAKARTA — Belakangan ini istilah “radikalisme” semakin populer. Dalam pemberitaan media mainstream, radikalisme sering dilekatkan pada kelompok-kelompok Islam garis keras (hard liner) yang mudah bersikap dan melakukan kekerasan atas nama agama.
Jika dilihat dari konteks umum, sebenarnya “pelebelan” itu kurang fair dan tendensius, karena semua agama dan paham aliran apapun berpotensi sama. Paham keagamaan (apapun agamanya) selalu ada kelompok yang berpaham dan beraliran keras, sementara yang berbeda dianggap salah. Contoh kasus bisa diungkap seperti kelompok Katolik ultra kanan di Irlandia Utara, sekte Yahudi Kabalah di Amerika, kelompok Buddha di Myanmar, dan lain-lain.
Sekarang yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan munculnya kelompok-kelompok radikal itu? Kenapa pula mereka dengan mudah nge-judge sesama (misal, sesama muslim) dengan istilah kafir atau ahlul bid’ah. Minimal mereka mudah menyalahkan keyakinan atau amal ibadah orang lain tidak sesuai tuntunan Rasul, sesat, dan lain-lain.
