MADANINEWS.ID, Magelang – Begitu Pemerintah Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, menetapkan tanggap darurat erupsi Gunung Merapi (6/11), maka status tanggap darurat segera diberlakukan hingga 30 November.
Status ini membuat warga rentan yang terdiri dari manula dan balita di Padukuhan Kalitengah Lor dan Kidul, Desa Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman mulai dievakuasi (7/11) sore ke barak Glagaharjo. Kelompok masyarakat rentan di Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, juga mulai diungsikan. Masyarakat Relawan Indonesia Magelang turut melakukan pendampingan psikososial.
Evakuasi tersebut membuat Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama MRI Magelang Raya datang ke lokasi untuk mendata pengungsi, mendistribusikan bantuan pangan, juga memasak di dapur umum pengungsian.
Menurut Komandan Tim Rescue ACT Kusmayadi, kedatangan Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama MRI Magelang Raya diharapkan mampu membantu meringankan cobaan yang ada.
“Kami datang ke lokasi untuk mendata pengungsi, mendistribusikan bantuan pangan, juga memasak di dapur umum pengungsian”, kata Kusmayadi dalam releasenya tanggal (9/11/2020).
Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan aktivitas Gunung Merapi menjadi level III atau Siaga. Kenaikan status tersebut tertanggal mulai Kamis (5/11), pukul 12.00 WIB.
BPPTKG melakukan pemetaan sektoral terkait prakiraan daerah bahaya meliputi 12 desa yang tersebar di DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Wilayah administrasi desa yang masuk di dalam prakiraan daerah bahaya di DI Yogyakarta yaitu Glagaharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, tiga kabupaten teridentifikasi memiliki wilayah-wilayah desa yang masuk dalam prakiraan daerah bahaya, yaitu Magelang, Boyolali dan Klaten.
Menurut Kusmayadi kembali, bagi yang ingin membantu masyarakat Yogyakarta yang terdampak erupsi merapi, dapat melalui https://indonesiadermawan.id/BantuPengungsiMerapi.*
