Home Dunia Islam Nusantara 800 Pesantren Ikuti Kompetisi Liga Santri Nusantara 2019

800 Pesantren Ikuti Kompetisi Liga Santri Nusantara 2019

Konferensi Pers Liga santri Nusantara. (foto:istimewa)

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Menyambut Hari Santri Nasional 2019 yang jatuh pada 22 Oktober 2019, kompetisi  sepak bola Liga Santri Nusantara (LSN) musim 2019 kembali digelar. Kompetisi yang akan berlangsung dari pertengahan September hingga November 2019 ini diikuti sekitar 800 pondok pesantren di seluruh Indonesia.

Direktur Eksekutif Liga Santri Nusantara Alfu Ni’am mengatakan, ratusan pesantren tersebut terbagi di 28 region yang mewadahi 32 provinsi. Namun, tidak di setiap provinsi ada region karena terkait dengan jumlah pondok pesantren sehingga ada provinsi yang tergabung di region provinsi lainn. Di region masing-masing diadakan pertandingan antarpondok pesantren untuk memperebutkan tiket ke Seri Nasional LSN 2019.

“Tahun ini Seri Nasional akan berlangsung di Bogor, Jawa Barat,” kata Alfu Ni’am selepas Bimbingan Teknis Liga Santri Nusantara di Hotel Lumire, Jakarta, Rabu (11/9).

Sebetulnya, menurut Ni’am, jumlah region dan peserta tahun ini berkurang dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2018 misalnya, ada seribu pesantren lebih yang menjadi peserta. Hal itu, menurut dia, karena mulai tahun ini, LSN diselenggarakan secara mandiri, tanpa bantuan anggaran dari pemerintah.

Diselenggarakan dengan Biaya Sendiri

Sebelumnya, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghafar Rozin mengaku bersyukur, meski tanpa anggaran pemerintah, ternyata semangat pesantren di berbagai provinsi masih tetap besar. Terbukti, jika tahun sebelumnya terdapat 32 region, tahun ini masih bisa menyisakan 28 region.

“Liga Santri Nusantara tidak hanya soal bola, tidak hanya anggaran, tetapi bentuk komitmen kesantrian kita,” katanya pada pembukaan Bimbingan Teknis Liga Santri Nusantara 2019 di Hotel Lumire, Jakarta Pusata, Rabu, (11/9).

Menurut dia, liga yang memiliki tagline Dari Pesantren untuk Sepakbola Indonesia ini memasuki tahun kelima, usia yang harus menapaki kematangan dalam penyelenggaraan sebuah kompetisi, bentuknya pelaksanaan harus sudah ada, agar kegiatan tersebut bisa berlanjut.

Lebih lanjut ia mengajak kepada seluruh koordinator region dan panitia penyelenggara LSN 2019 baik di tingkat daerah maupun pusat, agar bisa memastikan para peserta kompetisi adalah benar-benar santri.

“Mekanismenya kita atur bersama dan kita patuhi bersama dimulai dengan definisi  siapa santri itu, itulah yang mereka yang ikut,” katanya.

“Mungkin tidak seperti tahun-tahun kemarin, golnya tidak  berkualitas  nasional atau  internasional. Tapi yang terpenting adalah menggali  bakat-bakat dari  pesantren. Kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Yang lebih penting adalah proses penjaringan. Tentu lebih lama dan capek, tapi hasilnya akan terlihat dalam jangka  panjang,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengajak kepada seluruh koordinator region dan panitia penyelenggara LSN 2019 baik di tingkat daerah maupun pusat, agar bisa menggali dana untuk kelancaran Liga Santri Nusantara ini.

LSN merupakan sarana silaturrahmi dan komunikasi antarpesantren di tingkat daerah hingga tingkat nasional yang dimulai sejak 2015. Waktu itu penyelenggara tunggal adalah Kementerian Olah Raga RI. Tahun berikutnya, Kemenpora melibatkan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) dengan dibantu anggaran pemerintah. Tahun 2019 dilaksanakan RMINU secara mandiri.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here