Home Dunia Islam Nusantara Din Syamsuddin Sambut Positif Gerakan Nasional Indonesia Dermawan

Din Syamsuddin Sambut Positif Gerakan Nasional Indonesia Dermawan

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin . (foto:istimewa)

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menyambut baik hadirnya Gerakan Nasional Indonesia Dermawan yang digagas oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).  Hal ini ia sampaikan saat  menyambut sejumlah delegasi dari tokoh lintas agama Myanmar di Jakarta Pusat pada Senin (9/9).

Din optimis Gerakan Nasional Indonesia Dermawan dapat menyelesaikan sebagian masalah-masalah kemanusiaan.

“Karena gerakan ini akan menjadi bola salju yang memobilisasi rasa kepedulian dan kedermawanan di kalangan masyarakat, khususnya umat Islam. Dan saya yakin dengan gerakan ini akan menyelesaikan sebagian dari masalah-masalah kemanusiaan yang kita hadapi selama ini di Indonesia,” ujar Din.

Apalagi di tengah kondisi kemiskinan yang jumlahnya cukup besar saat ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 mencapai 25,14 juta orang dengan sebaran 9,99 juta orang di perkotaan dan 15,15 juta berada di pedesaan. Angka tersebut turun dari tahun 2018, namun tidak signifikan, di mana penduduk miskin pada bulan Maret 2018 berada pada angka 25,95 juta orang.

Bagi Din, diperlukan sikap kedermawanan dari berbagai pihak untuk solusi dari permasalahan bersama ini. Menurutnya, lembaga-lembaga filantropi juga perlu menyediakan sebuah sistem agar permasalahan ini juga segera dapat diatasi.

“Jelas, (kemiskinan) itu juga memerlukan kepedulian sosial, solidaritas sosial, kedermawanan. Maka lembaga-lembaga filantropi seperti ACT dan lainnya, perlu memikirkan sebuah sistem yang tepat termasuk untuk konotasi produktif. Sehingga, sistem ini bisa memberdayakan perekonomian, dan akhirnya bisa menuntaskan kemiskinan umat, kemiskinan di masyarakat selama ini,” kata Din.

Ia menambahkan, kedermawanan itu adalah sebuah hal nyata yang sudah tertanam di dalam diri bangsa Indonesia. Mulai dari agama-agama yang dianut oleh masyarakatnya yang menekankan kepada kepedulian, hingga budaya bangsa yang berbetuk kegotong royongan dalam membantu sesama.

Din mencontohkannya ketika adanya bencana sosial maupun bencana alam seperti gempa dan tsunami melanda manusia. Seperti bencana beruntun yang terjadi pada Lombok, Palu, dan Pandeglang pada tahun lalu. Berbondong-bondong orang mewujudkan rasa kepedulian dan solidaritasnya kepada sesama manusia melalui kedermawanan sehingga kondisi sulit tersebut bisa teratasi.

“Memang kedermawanan itu nyata adanya. Pada saat terjadinya bencana alam atau bencana sosial, terlihat kegairahan, semangat dari berbagai elemen masyarakat mengulurkan tangan kedermawanan, memberikan bantuan bahkan datang langsung ke lokasi,” Din menjelaskan.

Oleh karenanya, bagi Din, penting juga peran lembaga yang dapat menampung potensi solidaritas dan kedermawanan tersebut, seperti ACT juga salah satunya. Dengan hadirnya lembaga-lembaga yang bisa mengelola potensi kedermawanan, ia yakin kepedulian orang-orang dapat tersalurkan secara efektif. Maka dari itu, Din berpendapat peran lembaga ini cukup penting dan perlu dihidupkan.

“(Musibah) ini semua menunutut solidaritas kita dan kepedulian kita kepada sesama khususnya yang terkena musibah tersebut. Ini tidak bisa tidak memerlukan dukungan serta bantuan dari pihak luar. Maka kedermawanan, filantropi ini harus kita hidupkan. Maka adanya lembaga lembaga filantropi seperti ACT dan masih banyak yang lain lagi ya, khususnya di kalangan umat Islam, ini sesuatu yang penting sekali sekarang ini,” pungkas Din.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here