MADANINEWS.ID, MADINAH — Jamaah haji Indonesia mulai memadati Madinah sejak pemberangkatan pertama pada Minggu 7 Juli 2019. Selama di Madinah jamaah haji akan mendapatkan konsumsi makan sebanyak 18 kali yang terdiri dari makan siang, makan malam dan kudapan di pagi hari.
Hal ini disampaikan oleh Kabid Katering PPIH Arab Saudi Ahmad Abdullah. Ia menuturkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak baik, pihaknya sudah menginstruksikan kepada petugas haji untuk intensif melakukan pengawasan.
“Tidak hanya saat distribusi, tetapi juga saat proses produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, lauk pauk, buah, dan lainnya, semuanya kita awasi,” kata Ahmad di Madinah, Rabu (10/7) WAS.
Ahmad menuturkan Kabid Katering PPIH Arab Saudi telah menjalin kerja sama dengan dinas tata kota yang ada di Madinah, Kemenkes, dan pengawas katering secara khusus. Untuk kerja sama dengan katering di Madinah, sedikitnya ada 15 perusahaan. Sedangkan di Makkah, ada 36 perusahaan serta 13 perusahaan katering di Arafah, Mina, dan Muzdalifah.
“Kami juga bekerja sama dengan perusahaan katering yang dikelola Muassasah Asia Tenggara,” ucapnya.
Disajikan Menu Makanan Indonesia
PPIH Arab Saudi, tambah Ahmad, juga menggaet koki yang bisa masak makanan Indonesia. “Semua perusahaan yang menjalin kerja sama dengan kita, kita wajibkan memiliki chef atau koki (juru masak) dari Indonesia. Ada sambal, sambal goeing, ikan patin, mi, dan lainnya, selera ala nusantara,” ungkapnya.
Sebelumnya Konsul Jenderal RI (Konjen) Jeddah, Muhammad Heri Saripudin menyatakan, pemerintah Indonesia terus berupaya memaksimalkan potensi makanan dan minuman nusantara hingga ke Tanah Suci. Semua itu, lanjutnya, dilakukan demi kenyamanan dan kemudahan jamaah.
“Selera nusantara ini supaya jamaah terbiasa dengan tidak perlu khawatir dengan makanan selama di Tanah Suci, karena semuanya disesuaikan dengan makanan nusantara,” kata dia.
Bahkan, lanjut Heri, pihaknya juga mengupayakan sesuai dengan selera daerah. “Bisa dari Jawa, Minang, Melayu, Lombok, maupun masakan khas daerah di Indonesia,” ujar Heri.
Beberapa jamaah saat dikonfirmasi soal masakan dan makanan yang disajikan di pemondokan, mereka menyatakan sangat cocok dan memuaskan. “Alhamdulillah, cocok dengan selera saya dan istri,” kata Mahfudz dan istrinya, di pelataran Masjid Madinah.
Mahfudz senang, karena salah satu menu atau makanan favoritnya, ikan patin, tersedia di pemondokan. “Mantap sekali,” kata Mahfudz, jamaah asal Madura.
Tak lupa ia pun menyampaikan penghargaan bagi pemerintah Indonesia yang sudah menguyapayakan hal ini. “Terima kasih banyak kepada pemerintah Indonesia,” ujarnya.
