MADANINEWS.ID, GOWA-SULSEL — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Ahad (27/1) merilis data terbaru korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sulawesi Selatan (Sulsel). Dalam rilisnya, banjir dari Bendungan Bili-bili, bendungan terbesar di provinsi tersebut masih menyisakan ribuan orang mengungsi.
Walau mulai surut dan sebagian warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing, namun ribuan orang masih tercatat mendiami pengungsian. Sampai Ahad (27/1) kemarin total warga yang mengungsi mencapai 6.757 orang. Mereka ini ialah korban yang rumahnya hancur atau ikut hanyut terbawa aliran banjir pada Selasa (22/1) lalu. Selain itu, warga juga masih merasa aman di pengungsian dibandingkan di rumah mereka masing-masing.
Selain korban mengungsi, tercatat, korban meninggal akibat banjir disertai tanah longsor di beberapa titik mencapai 68 orang. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban meninggal terbanyak ada di Kabupaten Gowa.
“Di Gowa 45 meninggal, Makassar 1 orang, Jeneponto 14 orang , Maros 4 orang, Takalar 2 orang, Selayar 2 orang, juga 7 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian,” ungkapnya, Ahad (27/1).
Tidak hanya itu, bencana alam di Sulsel juga berdampak pada 71 kecamatan yang tersebar di 13 kabupaten/kota meliputi Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap , Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai.
Kerusakan fisik berimbas pada 550 unit rumah rusak (33 unit hanyut, 459 rusak berat, 30 rusak sedang, 23 rusak ringan, 5 rumah tertimbun). Banjir juga berdampak pada 5.198 unit rumah terendam dan 13.326 hektare sawah terdampak. Banjir dan longsor juga merusak 65 unit sekolah di seluruh kabupaten/kota terdampak bencana alam di Sulsel.
Hujan deras yang melanda Sulsel pada Selasa lalu juga mengakibatkan tanah longsor. Dari data yang dihimpun tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), terdapat 8 titik longsor di Kabupaten Gowa dengan 3 di antaranya yang paling parah. Salah satu lokasi terparah dikubur longsoran ada di Pasar Sapaya, Desa Sapaya di Kecamatan Bungaya.
Dilaporkan 7 orang telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sedangkan 3 orang lagi diperkirakan masih tertimbun dan sedang dalam pencarian. Longsoran yang tebal serta medan yang sulit dijangkau alat berat menjadi kendala.
Untuk mencapai lokasi longsor di Desa Sapaya, jika di tempuh dari Makassar memakan waktu 8 jam. Jalan memutar akibat jalan dan jembatan yang terputus membuat waktu dan jarak tempuh lebih jauh.
“Kendaraan roda empat tidak bisa sampai ke lokasi, bahkan roda dua pun kesulitan kalau tidak motor trail. Pilihan kami paling berjalan kaki dari jembatan yang putus,” ungkap Koordinaor Tim Emergency Response ACT Sulsel Miswar Arifin
