Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Krisis Bahan Bakar, 5 Rumah Sakit di Gaza Terancam Berhenti

Abi Abdul Jabbar Sidik
22 January 2019 | 11:50
rubrik: Mancanegara
Krisis Bahan Bakar, 5 Rumah Sakit di Gaza Terancam Berhenti

Perawat di Nasr Hospital Gaza mengecek kondisi kesehatan pasien. (foto:istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, GAZA-PALESTINA — Bukan cerita baru mendengar rumah sakit di Gaza alami krisis bahan bakar. Apalagi kini perekonomian di Gaza semakin memburuk, membuat semua harga-harga barang pokok melonjak tidak terkontrol, terlebih harga bahan bakar. Akibatnya, pasokan bahan bakar untuk rumah sakit di Gaza justru menurun hingga 17%.

Direktur Kerjasama Internasional Kementerian Kesehatan Palestina Dr. Ashraf A. Rahim Abu Mhadi mengungkapkan, pekan lalu Rumah Sakit Beit Hanoun di Gaza Utara berhenti operasi karena kehabisan bahan bakar. RS. Beit Hanoun adalah satu di antara 13 rumah sakit pemerintahan yang mendapat pasokan listrik dari pusat.

“Kebutuhan listrik RS. Beit Hanoun ditopang oleh sumber listrik pusat di Gaza. Jadi, apabila pusat tidak ada listrik, rumah sakit itu pun harus berhenti beroperasi,” kata Dr. Ashraf ketika dirinya berkunjung ke kantor pusat Aksi Cepat Tanggap (ACT) di bilangan Jakarta Selatan pada Senin (21/1).

Direktur Kerjasama Internasional Kementerian Kesehatan Palestina Dr. Ashraf A. Rahim Abu Mhadi mengutarakan permasalahan di rumahsakit Gaza saat berkunjung ke kantor pusat Aksi Cepat Tanggap (ACT) di bilangan Jakarta Selatan pada Senin (21/1). (foto:act)

Bahkan Dr. Ashraf juga menyebutkan dalam lima atau enam hari ke depan ada lima rumah sakit yang terancam berhenti beroperasi sepenuhnya. Lima rumah sakit itu antara lain RS. Anak Nasr, RS. Anak Rantissi, Rumah Sakit Mata Al-Uyun, Rumah Sakit Jiwa, dan Rumah Sakit Abu Yusuf Najjar.

“Situasi yang kami hadapi tidak mudah. Apabila satu rumah sakit kehabisan bahan bakar, kami berusaha memindahkan para pasien ke rumah sakit lain, itu tentu akan meningkatkan konsumsi bahan bakar di rumah sakit di mana pasien dipindahkan. Namun, jika tidak dipindahkan, mereka akan menderita akibat kurangnya bahan bakar,” papar Dr. Ashraf.

“Hanya sekitar 55% hingga 60% kebutuhan akan tempat tidur yang terpenuhi. Bahkan sejak 3 Maret sampai akhir 2018, tercatat sekitar 26.000 jiwa mengalami cedera ketika melakukan aksi Al-Awdah Great March of Return, namun hanya setengahnya yang dapat masuk ke rumah sakit karena semua rumah sakit sudah penuh,” jelas Dr. Ashraf.

See also  Saudi Luncurkan Wisata Jalur Hijrah Nabi Muhammad SAW, Indonesia Jadi Negara Paling Antusias

Krisis pun semakin menjadi-jadi, mendorong perwakilan resmi Kemenkes Gaza, Dr. Ashraf datang menemui Tim ACT untuk melakukan kolaborasi dalam membantu setiap rumah sakit beserta pasiennya di Gaza. “Sekarang kami sangat membutuhkan bantuan dari banyak pihak, termasuk ACT sebagai lembaga kemanusiaan untuk menghentikan krisis atau paling tidak menunda pemberhentian operasi 5 rumah sakit itu,” pungkas Ashraf

Previous Post

Menko Polhukam: Pemerintah Masih Lakukan Kajian Pembebasan Abu Bakar Baasyir

Next Post

KJRI Jeddah Dekatkan Pelayanan bagi Warga Melalui Yandu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks