Ini Dia Sinopsis Film Keluarga Cemara

Penulis Irawan Nugroho

Ini Dia Sinopsis Film Keluarga Cemara

Film Keluarga Cemara yang diangkat dari film sinetron Keluarga Cemara tahun 90-an akan tayang serentak tanggal 3 Januari 2019. Para pemeran utama film ini adalah Abah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Emak, diperankan oleh Nirina Zubir. Euis diperankan oleh Zara JKT48, dan Ara diperankan oleh putri dari penyanyi Widy B3 yakni Widuri Putri Sasono.

Dalam Media Screening Film Keluarga Cemara yang diselenggarakan Visinema Pictures, di Epicentrum XXI Jakarta (20/12/2018), Film Keluarga Cemara menekankan pada ‘kisah nyata’ keluarga muda Indonesia yang harus berani banting setir saat pekerjaan utama yang ditekuni selama ini harus jatuh karena berbagai masalah. Dari menjadi seorang Direktur di sebuah perusahaan, menjadi kuli bangunan hingga menjadi driver motor Gojek demi tetap menghidupi keluarga yang ada. Bukan rasa sakit yang ditekankan dalam film ini, tapi kemampuan untuk tetap survive mempertahankan keluarga di tengah keterbatasan.

Kisah dimulai dari sibuknya Abah dalam bekerja sehingga tidak bisa menyempatkan hadir dalam momen-momen penting keluarga seperti saat putrinya tengah tampil pentas di sekolah atau ulang tahun di rumah. Dalam kesibukan tersebut tenyata usaha yang dilaksanakan Abah gagal. Keuangan perusahaan defisit karena dana yang ada, ternyata digunakan oleh mitra Abah yaitu kakak iparnya untuk investasi yang bermasalah. Sebagai akibatnya seluruh Abah juga terkena dampaknya, rumah dan hartanya disita oleh debt collector untuk membayar utang perusahaan yang disebabkan oleh kakak iparnya.

Abah bersama keluarga kemudian terpaksa pindah sementara ke rumah di desa terpencil di Jawa Barat. Rumah itu merupakan rumah masa kecilnya, sebuah warisan dari ayahnya. Abah juga terus berusaha untuk memenangkan gugatannya di pengadilan karena ia tidak merasa ikut bisnis kakak iparnya. Tapi usahanya tersebut gagal, karena ternyata tanpa disadari tanda tangannya terdapat di kontrak investasi yang dilakukan kakak iparnya.

Abah kemudian dengan terpaksa harus beradaptasi seadanya demi keutuhan rumah tangganya. Sangat membahagiakan keluarganya ternyata mau menerima segala apa yang terjadi. Penerimaan ini membuat Abah kemudian bekerja sekeras mungkin dengan iklim desa. Ia kemudian menjadi kuli bangunan. Emak membantunya dengan memproduksi dan menjual opak. Euis ikut menjualnya opak tersebut ke sekolahnya. Sekalipun demikian beberapa masalah keluarga tetap timbul karena kemiskinan yang ada dan karena usia Euis yang telah meremaja. Namun demikian semua dapat diatasi.

Suatu ketika Abah jatuh saat bekerja sebagai kuli bangunan, kaki Abah sakit. Setelah sembuh ia kemudian mencari pekerjaan baru menjadi driver motor Gojek. Sebagai driver motor, ekonomi Abah menjadi lebih baik. Emak juga kini hamil lagi.

Namun keinginan kembali ke kota tetap masih sangat besar, sehingga Abah ingin menjual rumah warisan yang ditempatinya sekarang untuk modal usaha. Abah lalu menangani akta jual beli setelah seorang peminat ingin membeli rumahnya datang. Ternyata rencana Abah ditentang oleh anak-anaknya. Hal ini karena anaknya merasa lebih bahagia di desa. Hal ini karena kedekatan keluarga dirasakan jauh lebih baik dari pada di kota dulu. Euis dan Ara pun sudah dapat beradaptasi di sekolahnya.

Karena merasa nota jual beli sudah ditandatangani dan memberikan DP, pembeli rumah mulanya keberatan. Namun akhirnya semua permasalahan selesai, karena pembeli mau mengembalikan rumah yang telah dibelinya. Di saat itu pula, Emak kemudian melahirkan. Mereka kemudian bahagia tinggal di desa.

Kisah ini tentu menginspirasi keluarga Indonesia untuk tetap bisa survive seberapapun berat cobaan yang mendera. Hanya saja sayangnya, kisah-kisah yang disajikan terlalu terlihat dipaksakan dan kurang begitu cair. Film ini juga seperti film-film lain terlalu menekankan pada syndrome Siti Nurbaya. Di mana orang asing dilukiskan terlalu sangat baik karena mau mengembalikan tanah yang sudah ia beli.*

BACA JUGA

Tinggalkan komentar