MADANINEWS.ID, Jakarta–Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muth’i mengatakan, berbagai riset menunjukkan indeks toleransi menurun dari tahun 2017. Walaupun menurutnya di tahun 2018 menuju 2019 menunjukkan akan munculnya tantangan politik yang penuh dengan hatespech (ujaran kebencian).
“Saya menyesali perdebatan kandidat politik yang lebih mengedepankan adu isu, saling serang dan membantah. Bukan justru mendebatkan program kerja lima tahun mendatang,” ujarnya dalam Diskusi Media Mengenai Kerukunan Bangsa ‘Refleksi Akhir Tahun dan Proyeksi Awal Tahun, di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis, (13/12).
Dirinya mengungkapkan dalam konteks menghadapi kehidupan kebangsaan, proyeksi tokoh agama di awal tahun 2019 adalah perlunya membangun komunikasi agar terbangun kedekatan antara pemeluk agama.
“Begitupun calon kandidat dan pendukungnya agar ke depan lebih mengedepankan kontestasi program,” terangnya.
Ia menilai hal ini merupakan pembodohan demokrasi karena, kata dia jika yang diperdebatkan bukan program kerja melainkan saling jatuh menjatuhkan.
Abdul Muth’i melihat upaya melakukan politisasi agama memang menjadi tantangan sendiri. Melihat persoalan agama mudah memantik emosional rakyat.
“Masyarakat pun terlihat apatis, terbawa oleh isu- isu. Di mana rakyat diharapkan dapat menuntukan pilihannya demi Indonesia lima tahun mendatang, justru tidak menilai pilihannya dari sosok dan program kerjanya. Masyarakat harus mengawal proses Pemilu agar melahirkan Pemilu yang bersih,” pesannya.
Pemilihan Anggota Legislatif menurut Muth’i juga perlu diperhatikan, melihat melalui MPR dan DPR kebijakan- kebijakan itu disahkan. Melihat satu sisi sangat disayangkan akhir- akhir ini banyak pejabat- pejabat pusat maupun daerah terjerat kasus korupsi. Tio/Kontributor.
