Home Gaya Hidup Pendidikan Dompet Dhuafa Nilai Dunia Pendidikan Terjebak Dengan Legalitas Formal Ijazah

Dompet Dhuafa Nilai Dunia Pendidikan Terjebak Dengan Legalitas Formal Ijazah

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan Muhammad Syafi'ie el-Bantanie. (foto:istimewa)
MADANINEWS.ID,  Jakarta–Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (5/11) kemarin mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia saat ini adalah sebesar 5,34% dari total angkatan kerja.

Persentase tersebut setara dengan 7,001 juta orang dari total angkatan kerja sebanyak 131,01 juta orang. Selain itu, semua orang menganggur yang tercatat dalam data itu pernah mengenyam bangku sekolah. Lalu apa yang salah dari pendidikan kita?

BPS juga memaparkan penyumbang jumlah pengangguran terbanyak adalah lulusan SMK, yaitu sebesar 11,24%. Ironisnya, justru penganggur lulusan SD lah yang paling sedikit, di angka 2,43%. Sedangkan lulusan universitas sebesar 5,89%, lebih kecil dari lulusan diploma sebesar 6,02%. Sisanya adalah lulusan sekolah menengah. Lulusan SMP sebesar 4,80% dan lulusan SMA sebesar 7,95%.

Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, mengatakan, data di atas selayaknya menjadi evaluasi bersama. “Mengapa lulusan sekolah kejuruan yang notabene mengajarkan ketrampilan, malah menduduki posisi jawara dalam jumlah pengangguran? Mengapa pula lulusan universitas dan sarjana juga banyak yang tak terserap dalam dunia kerja?,” katanya Rabu (7/11).

Menurutnya, negeri ini telah sangat jelas merumuskan tujuan sistem pendidikannya. Hal itu tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 huruf c dan pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Hal itu, kata dia tersurat dalam undang-undang tersebut bahwa arah pendidikan Indonesia adalah menghasilkan manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, mandiri, dan kompeten.

“Masalah pendidikan saat ini adalah sekolah terjebak pada legalitas formal selembar ijazah. Sekolah merasa sudah melaksanakan kewajibannya dengan meluluskan siswa-siswanya berbekal ijazah. Namun, minim integritas, karakter, dan kompetensi,” tuturnya dalam analisanya terhadap permasalahan pendidikan di atas. Tio/Kontributor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here