MADANINEWS.ID, JEDDAH – Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, meresmikan kereta api cepat menghubungkan dua kota suci Mekkah-Madinah di Stasiun Al-Sulaymaniah, Jeddah, Selasa 25 September 2018.
Kereta Api bernama Haramain Express ini diketahui menggunakan berteknologi tinggi. Kereta siap menghantarkan para jemaah umrah dan haji ke Makkah-Madina melalui jalur sejauh 450 kilometer dengan kecepatan 300 kilometer per jam. Salah satu kota yang disinggahi pada rute kereta tersebut adalah Jeddah.
Proyek ini menelan biaya hingga SR37,5 miliar atau setara Rp149 triliun. Harga tiket satu kali perjalanan dari di Jeddah menuju Mekkah ditetapkan SR20, sedangkan kelas bisnis senilai SR25. Kereta ini diharapkan akan dapat mengangkut 60 juta penumpang setiap tahun dan melonggarkan lalu lintas bagi para umat yang beribadah.
Melansir dari laman Arab News, Raja Salman berkesempatan untuk menjajal kereta cepat Haramain ini menuju Madinah dari stasiun Sulaymaniyah, Jeddah.
“Dua tempat suci sekarang lebih dekat daripada sebelumnya,” ujarnya. Perjalanan bus dari Mekkah ke Madinah dan sebaliknya umumnya menghabiskan waktu enam jam. Namun, dengan Haramain Express, perjalanan antara kedua kota dapat ditempuh hanya dalam dua jam.
Ia menambahkan, Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah memerintahkan implementasi rencana kerja komprehensif terkait dengan industri transportasi di kerajaan.
Transportasi kereta saat ini dianggap sebagai pilar utama perekonomian nasional dan kunci untuk mendorong reformasi ekonomi di bawah strategi Vision 2030. Kereta tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada Senin, 1 Oktober 2018 mendatang.
Sekali jalan, Haramain Express bakal membawa 35 rangkaian kereta. Hingga akhir tahun ini, akan ada delapan kali pemberangkatan baik dari Mekkah maupun dari Madinah dalam satu hari. Selanjutnya, frekuensi akan ditingkatkan menjadi 12 kali pemberangkatan.
“Perjalanan antar Haramain kini lebih singkat dan mudah daripada sebelumnya. Proyek ini menandai komitmen kerajaan untuk melayani Islam dan umat Muslim,” terang Nabil al-Amoudi.
Proyek kereta ini dibangun dalam dua fase oleh dua konsorsium yang melibatkan perusahaan-perusahaan Saudi, Prancis, Cina, dan Spanyol.
