MADANINEWS.ID, DEPOK – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok dan Pesantren Cendekia Amanah mendeklarasikan penolakan terhadap segala bentuk ekstrem baik verbal maupun fisik dan sifat berlebihan (ghuluw) yang berasal dari kelompok dan mazhab apapun, yang dapat menjadi sumber perpecahan dan konflik di kalangan Muslim.
“Penolakan ini menjadi salah satu poin dalam Deklarasi Kalimulya Depok tentang Persatuan Umat Islam di Indonesia,” kata Ketua Dewan Dakwah sekaligus Pembina Pesantren Cendekia Amanah, KH Cholil Nafiz dalam keterangan resmi yang diterima madaninews, Senin (24/09)
Deklarasi ini dirumuskan dalam halaqoh dan Sarasehan Dai se-Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok bekerjasama dengan Pesantren Cendekia Amanah dengan tema “Menguatkan Peran Ulama dan Dai Sebagai Pemersatu Umat”, bertempat di Pesantren Cendekia Amanah, Kalimulya Kota Depok, Jawa Barat, 13 Muharam 1440 H/ 23 September 2018.
Halaqah ini dihadiri oleh berbagai elemen umat islam di Jabodetabek. Seperti dari kalangan NU, Muhammadyah, dan ormas-ormas Islam lainnya. Selain para ulama dan dai, juga dihadiri Walikota Depok, KH. Dr. Mohammad Idris dan jajarannya dan Ketua MUI Kota Depok beserta jajarannya.
“Deklarasi ini dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi menjelang Pilpres dan Pemilu serentak pada 2019. Situasi yang dianggap berperan dalam merosotnya ukhuwah Islamiyah dan konflik antarkelompok yang memprihatinkan. Tak ketinggalan, menguatnya gejala fanatisme (ashabiyah) kekelompokan dan eksklusifisme keagamaan di kalangan Muslim negeri ini, khususnya di Jabodetabek,” tutur KH Cholil.
Berikut Isi dari Deklarasi Kalimulya:
Diawali dengan menyebut Bismillahir Rahmanir Rahim, salam dan shalawat semoga tercurah pada Nabi Muhammad SAW, Keluarga, dan Sahabat-sahabatnya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu perbaikilah hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya”. (Al-Hujurat, 49:10).
- Ulama dan Dai mengajak seluruh umat untuk tidak membesar-besarkan dan menjadikan perbedaan-perbedaan furu’iyah di antara sesama Muslim sebagai sumber konflik dan perpecahan dan, sebaliknya, menyatukan kata dan sikap; menegaskan kembali sikap saling menghargai; tidak saling menjelekkan sesama Muslim, dan memperkukuh tali persaudaraan islamiyah, insaniyah, dan wathoniyah.
- Ulama dan Dai juga menolak segala bentuk ekstrem baik verbal maupun fisik dan sifat berlebihan (ghuluw) yang berasal dari kelompok dan mazhab apapun, yang dapat menjadi sumber perpecahan dan konflik di kalangan Muslim.
- Ulama dan Dai berperan sentral dalam memberikan inspirasi, membina, dan memberikan teladan bagi umat serta memelihara persatuan Islam di Indonesia berdasarkan prinsip-prinsip kesamaan ajaran dan sikap saling menghormati berbagai penafsiran atas ajaran Islam demi memperjuangkan kepentingan dan cita-cita mulia umat Islam Indonesia, dan menggalang kesamaan langkah dalam mengupayakan kokohnya persaudaraan Islam
- Ulama dan Dai berkomitmen mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pemersatu umat dan fungsi mencerdaskan umat dengan berbagai kajian ilmu ke-Islaman.
- Ulama dan Dai senantiasa memberi keutamaan kepada pembinaan syakhsiah dan nilai hidup Muslim milenial yang sejati melalui pendekatan tarbiyah dan dakwah fardiyah sehingga melahirkan generasi muda yang mandiri dan Islami.
