IBADAH.ID, JAKARTA – Wahid Foundation (WF) memandang, fenomena politisasi agama seperti yang muncul dalam pilkada DKI Jakarta 2017 menunjukan jika masalah utama bukan karena masyarakat alergi dengan perbedaan agama atau keyakinan.
Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid menyampaikan, masyarakat Indonesia umumnya menyadari jika perbedaan tersebut merupakan kenyataan bangsa Indonesia.
“Masalah terbesar dalam politisasi agama terjadi setidaknya karena dua hal. Pertama,
penggunaan idiom atau simbol agama secara eksesif dan tidak tepat di ruang-ruang politik,” ujarnya di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (8/8).
Yenny menambahkan kedua, adanya usaha-usaha sebagian kelompok memanfaatkan perasaan tidak suka, rasa terancam dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda untuk meraih dukungan politik.
“Jika analisis itu didukung dengan hasil Survei Nasional kami tahun 2017. Ketidaksukaan dan kebencian dalam survei itu menjadi salah satu faktor yang berpengaruh langsung bagi aksi-aksi intoleransi,” ungkapnya.
Yenny menyatakan hal tersebut saat menerima Duta Perdamaian dari Universal
Peace Federation di hadapan lebih dari dua ratus undangan Peluncuran Laporan Kemerdekaan Beragama Berkeyakinan dan Politisasi Agama 2017.
Untuk diketahui, mereka berasal dari perwakilan-perwakilan pemerintah, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat umum. (Tio/Kontributor)
