MADANINEWS.ID, JAKARTA – Kekuasaan dapat menjadi jalan untuk melindungi manusia dan menegakkan keadilan. Namun, ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang, rasa aman dapat berubah menjadi ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga keteguhan hati untuk tetap bersandar kepada Allah SWT.
Islam mengajarkan manusia untuk tidak menggantungkan seluruh rasa aman kepada kekuatan manusia. Sebab, sebesar apa pun kekuasaan seseorang, tetap ada kekuasaan Allah SWT yang melampaui seluruh makhluk. Karena itu, doa dapat menjadi salah satu ikhtiar seorang hamba ketika berhadapan dengan ancaman dan kezhaliman.
Memohon Perlindungan dari Orang Zalim
Salah satu doa ketika takut terhadap kezhaliman penguasa tercantum dalam Hisnul Muslim karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani. Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT menjadi pelindung dari keburukan seseorang beserta kelompok atau pengikutnya.
Berikut doanya:
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، كُنْ لِي جَارًا مِنْ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ، وَأَحْزَابِهِ مِنْ خَلَائِقِكَ، أَنْ يَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ يَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma rabba as-samāwāti as-sab‘i wa rabba al-‘arsyi al-‘aẓīm, kun lī jāran min fulāni bni fulān, wa aḥzābihi min khalā’iqika, an yafruṭa ‘alayya aḥadun minhum aw yaṭghā, ‘azza jāruKa, wa jalla thanā’uKa, wa lā ilāha illā Anta.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan Tuhan ‘Arsy yang agung, jadilah Engkau pelindung bagiku dari si fulan bin fulan dan para pengikutnya dari makhluk-Mu, agar jangan ada seorang pun dari mereka berlaku melampaui batas atau berbuat zalim kepadaku. Maha mulia perlindungan-Mu, Maha agung pujian-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau.”
Doa tersebut menempatkan perlindungan Allah sebagai sandaran ketika seseorang merasa berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar darinya. Nama orang yang ditakuti dapat disebutkan pada bagian yang sesuai dalam doa.
Saat Rasa Takut Mulai Menguasai Hati
Ancaman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan secara langsung. Tekanan, intimidasi, dan rasa takut yang terus dipelihara juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan daya. Dalam situasi semacam itu, doa menjadi ikhtiar untuk menjaga hati agar tidak sepenuhnya dikuasai rasa takut.
Doa lainnya berbunyi:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِهِ جَمِيعًا، اللَّهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، الْمُمْسِكِ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلَانٍ، وَجُنُودِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ، مِنْ الْجِنِّ وَالإِنْسِ، اللَّهُمَّ كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، جَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Allāhu akbar, Allāhu a‘azzu min khalqihi jamī‘an, Allāhu a‘azzu mimmā akhāfu wa aḥdhar, a‘ūdzu billāhi alladzī lā ilāha illā Huwa, al-mumsiki as-samāwāti as-sab‘i an yaqa‘na ‘alā al-arḍi illā bi idznih, min syarri ‘abdika fulān, wa junūdihi wa atbā‘ihi wa asy-yā‘ihi, mina al-jinni wa al-insi, Allāhumma kun lī jāran min syarrihim, jalla thanā’uKa wa ‘azza jāruKa, wa tabāraka ismuka, wa lā ilāha ghayruka.
Artinya: “Allah Mahabesar. Allah lebih mulia dan lebih kuat daripada seluruh makhluk-Nya. Allah lebih kuat daripada apa yang aku takutkan dan aku waspadai. Aku berlindung kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, yang menahan tujuh langit agar tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya, dari kejahatan hamba-Mu si fulan, bala tentaranya, para pengikutnya, dan para pendukungnya, baik dari golongan jin maupun manusia.
Ya Allah, jadilah Engkau pelindung bagiku dari kejahatan mereka. Maha agung pujian-Mu, Maha mulia perlindungan-Mu, Maha berkah nama-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau.”
Pada akhirnya, doa ini bukan sekadar permintaan agar seseorang dijauhkan dari ancaman. Ia juga menjadi pengingat bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Ketika seorang hamba merasa terdesak dan tidak memiliki banyak daya, masih ada Allah SWT yang menjadi tempat bergantung.
Karena itu, menghadapi ketakutan tidak selalu berarti bahwa seseorang harus merasa kuat setiap saat. Ada kalanya keteguhan justru tumbuh ketika seorang hamba mengakui kelemahannya, lalu menyerahkan perlindungan kepada Allah. Sebab, sebesar apa pun kuasa manusia, tidak ada kekuasaan yang melampaui kekuasaan-Nya.
