MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tidak semua sedekah diukur dari banyaknya harta yang dikeluarkan. Dalam sejarah Islam, terdapat kisah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak memiliki apa pun untuk disumbangkan, tetapi justru memperoleh kabar gembira dari Nabi bahwa sedekahnya telah diterima Allah SWT. Dialah Ulbah bin Zaid, seorang sahabat yang dikenal hidup dalam kefakiran.
Kisah ini terjadi menjelang Perang Tabuk, ketika Rasulullah SAW mengajak kaum muslimin mempersiapkan bekal untuk menghadapi pasukan Romawi. Saat itu, para sahabat berlomba-lomba menginfakkan harta terbaik yang mereka miliki demi mendukung perjuangan di jalan Allah.
Para Sahabat Berlomba Bersedekah
Dalam buku The Amazing Stories karya AR Shohibul Ulum diceritakan, para sahabat memberikan sumbangan sesuai kemampuan masing-masing.
Abu Bakar menyerahkan 40.000 dirham. Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya. Utsman bin Affan juga turut memberikan kontribusi besar bagi pasukan kaum muslimin.
Sementara itu, kaum fakir tetap berusaha mengambil bagian dalam amal tersebut. Ada yang membawa satu sha kurma, ada pula yang hanya mampu memberikan setengah sha. Meski jumlahnya sedikit, mereka tetap ingin memperoleh pahala berjihad dengan harta.
Namun, tidak demikian dengan Ulbah bin Zaid.
Ia tidak memiliki apa pun yang dapat disumbangkan. Kondisi itu membuatnya hanya mampu menundukkan kepala, sementara orang-orang munafik mengejek infak kaum miskin yang nilainya dianggap tidak berarti.
Munajat Seorang Hamba di Tengah Malam
Malam sebelum keberangkatan pasukan, Ulbah menghabiskan waktunya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Ia mencurahkan kesedihan karena tidak memiliki harta yang dapat dipersembahkan di jalan Allah.
Air matanya mengalir deras saat memanjatkan doa.
“Ya Allah, aku tidak memiliki apa-apa yang dapat kusumbangkan. Namun ya Allah, telah kumaafkan semua orang yang pernah menyakitiku,” ujar Ulbah, seperti dikutip dari buku Kearifan Islam: Kisah-Kisah Nabi dan Para Sahabat yang Penuh Ilham dan Mencerahkan karya Maulana Wahiduddin Khan.
Dalam riwayat lain disebutkan doa Ulbah berbunyi:
“Aku bersedekah atas setiap muslim dengan segala kezaliman yang menimpaku baik pada harta atau jasadku atau kehormatanku.”
Bagi Ulbah, memaafkan orang-orang yang pernah berbuat zalim kepadanya menjadi satu-satunya “harta” yang dapat ia persembahkan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW Mengabarkan Sedekah yang Diterima Allah
Keesokan paginya, Ulbah menghadiri salat Subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW dan para sahabat.
Usai salat, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat,
“Siapakah yang bersedekah tadi malam?”
Tidak ada seorang pun yang berdiri. Ulbah pun tetap diam karena merasa dirinya tidak memberikan sedekah berupa harta.
Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan tersebut hingga tiga kali dan meminta siapa pun yang telah bersedekah agar berdiri.
Saat itulah Ulbah bangkit lalu menceritakan doa yang dipanjatkannya sepanjang malam.
Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW mendekati Ulbah dan bersabda,
“Bergembiralah, demi (Allah) yang jiwaku berada di Tangan-Nya, engkau telah tercatat bersedekah dengan sedekah yang diterima.”
Kabar itu menjadi penghibur bagi Ulbah. Apa yang tidak mampu ia lakukan dengan harta, Allah SWT gantikan dengan keikhlasan hati dan keluasan jiwa untuk memaafkan sesama.
Air Mata Orang-Orang yang Tak Mampu Berinfak
Kesedihan kaum fakir yang tidak mampu ikut berjihad atau menyumbangkan harta juga diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 92,
وَّلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَآ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ اَجِدُ مَآ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ ۖتَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَلَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَۗ
Artinya:
“Tidak (ada dosa) pula bagi orang-orang yang ketika datang kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau menyediakan kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, ‘Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawamu.’ Mereka pergi dengan bercucuran air mata karena sedih sebab tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).”
Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama, dengan merujuk riwayat Ibnu Jarir At-Tabari dari Ibnu Abbas, ayat tersebut berkaitan dengan kisah sahabat bernama ‘Abdullāh bin Saffal al-Muzanī yang meminta Rasulullah SAW menyediakan kendaraan bagi kaum miskin agar dapat ikut berjihad.
Kisah Ulbah bin Zaid menjadi pelajaran bahwa nilai sebuah sedekah tidak selalu ditentukan oleh besarnya harta yang diberikan. Keikhlasan, ketulusan memaafkan, dan hati yang hanya berharap kepada Allah SWT dapat menjadi amal yang bernilai besar di sisi-Nya.
