MADANINEWS.ID, JAKARTA – Di tengah lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah, ada satu pemandangan yang selalu sama dari masa ke masa: jutaan Muslim bergerak serempak dalam arah yang sama, berlawanan dengan arah jarum jam.
Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sekadar tata cara ritual. Namun bagi umat Islam, tawaf bukan hanya gerakan fisik mengelilingi bangunan suci. Ia adalah simbol kepatuhan, penghambaan, dan keterhubungan manusia dengan keteraturan ciptaan Allah SWT.
Lalu, mengapa tawaf harus dilakukan berlawanan arah jarum jam? Dan kenapa pula harus tujuh putaran?
Tawaf, Ibadah yang Menjadi Inti Kedekatan dengan Baitullah
Tawaf merupakan salah satu ibadah utama dalam rangkaian haji dan umrah. Ritual ini dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dimulai dari sudut Hajar Aswad (Rukun Hajar Aswad), dengan arah pergerakan berlawanan dari jarum jam.
Dalam pelaksanaannya, jemaah dianjurkan memulai tawaf dengan menghadap Hajar Aswad sambil bertakbir.
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
Arab-Latin: Bismillāhi wallāhu akbar
Jika kondisi sangat padat sehingga tidak memungkinkan menyentuh atau mencium Hajar Aswad, maka cukup dengan memberikan isyarat dari kejauhan.
Landasan pelaksanaan tawaf sendiri termaktub dalam firman Allah SWT:
ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
Artinya:
“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf di sekeliling al-Bait al-‘Atīq (Baitullah).”
(QS Al-Hajj: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa tawaf bukan tradisi biasa, melainkan bagian dari syariat ibadah yang diperintahkan Allah SWT.
Mengapa Tawaf Berlawanan Arah Jarum Jam?
Jawaban paling utama dan paling mendasar adalah: karena demikianlah Rasulullah SAW mencontohkannya.
Dalam Islam, tata cara ibadah mahdhah seperti tawaf tidak semata-mata dibangun di atas logika rasional, melainkan ittiba’ atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Namun menariknya, sejumlah ilmuwan mencoba membaca hikmah dari pola pergerakan ini melalui pendekatan sains.
Dalam buku Ternyata Kita Tak Pantas Masuk Surga karya H. Ahmad Zacky El-Syafa, dijelaskan pandangan Dr. Jamal Elzaky yang menyebut pergerakan tawaf mencerminkan ritme alam semesta.
Dalam perspektif ini, banyak sistem kehidupan bergerak dalam pola melingkar yang serupa.
Elektron mengelilingi inti atom.
Sel memiliki dinamika perputaran.
Planet bergerak dalam orbitnya.
Galaksi berputar dalam keteraturan kosmik.
Meski pendekatan ini bersifat reflektif, bukan landasan syariat, sebagian Muslim melihatnya sebagai isyarat bahwa ibadah manusia pun bergerak dalam harmoni dengan sunnatullah di alam raya.
Namun perlu ditegaskan, alasan utama tawaf dilakukan demikian tetap karena mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Kenapa Harus Tujuh Putaran?
Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: kenapa tujuh?
Kenapa bukan lima? Enam? Atau sepuluh?
Sekali lagi, jawaban utamanya adalah karena itulah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Dalam hadis disebutkan:
“Ibnu Umar RA masuk Makkah ketika waktu duha. Lalu beliau mendatangi Ka’bah dan menyentuh Hajar Aswad sambil mengucapkan ‘Bismillah Wallahu akbar.’ Kemudian, beliau lari-lari kecil 3 kali putaran, dan jalan antara rukun Yamani dengan rukun Hajar Aswad. Setelah sampai di Hajar Aswad, beliau menyentuhnya dan bertakbir, lalu berkeliling 4 tawaf sambil berjalan. Ibnu Umar mengatakan, bahwa Rasulullah SAW juga melakukan hal ini.”
(HR Ahmad, dinilai sahih oleh Syuaib al-Arnauth)
Tiga putaran pertama dilakukan dengan langkah lebih cepat (raml) dalam kondisi tertentu, lalu empat sisanya dengan langkah biasa.
Totalnya: tujuh putaran.
Karena itu, jumlah tersebut bukan angka simbolik yang bisa diubah sesuka hati, melainkan bagian dari tata cara ibadah yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Angka Tujuh dalam Simbolisme Islam
Meski landasan ibadah adalah sunnah Nabi, angka tujuh memang kerap muncul dalam berbagai simbolisme Islam.
Ada tujuh lapis langit.
Tujuh kali sa’i antara Safa dan Marwah.
Tujuh lemparan saat melontar jumrah.
Dalam refleksi spiritual, angka tujuh sering dimaknai sebagai kesempurnaan atau kelengkapan.
Sebagian pemikir Muslim juga mencoba menghubungkannya dengan keteraturan alam.
Profesor BRIN Thomas Djamaluddin, sebagaimana dikutip dalam buku Mengingat-Mu Aku Bahagia karya Muhammad Muhsin Muiz, menyebut pola gerak berulang seperti tawaf dapat dilihat sebagai simbol harmoni gerak semesta.
Namun sekali lagi, bagi Muslim, ibadah bukan dilakukan karena sains membenarkannya.
Justru sains kadang membantu manusia merenungi hikmah di balik syariat.
Tawaf: Ketika Hati Mengorbit kepada Allah
Tawaf sejatinya bukan sekadar berjalan memutari Ka’bah.
Ia adalah simbol bahwa hidup seorang Muslim seharusnya berpusat pada Allah SWT.
Sebagaimana planet memiliki orbit.
Sebagaimana galaksi memiliki pusat.
Maka hati seorang mukmin pun seharusnya memiliki satu poros: Rabb semesta alam.
Saat jutaan manusia bergerak dalam satu arah yang sama, tanpa membedakan bangsa, warna kulit, bahasa, atau status sosial, ada pesan yang sangat kuat:
bahwa semua manusia hanyalah hamba.
Dan semua hamba sedang bergerak menuju Tuhan yang sama.
Mungkin itulah sebabnya tawaf terasa begitu emosional.
Karena yang berputar bukan hanya kaki.
Tetapi juga hati.
