MADANINEWS.ID, JAKARTA – Rencana perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali bergerak setelah sempat terancam batal akibat perbedaan lokasi pertemuan. Pembicaraan yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Istanbul kini dipastikan digelar di Oman, menyusul lobi sejumlah negara Timur Tengah kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada media Axios bahwa sedikitnya sembilan negara di kawasan Timur Tengah mendesak Gedung Putih agar tetap melanjutkan pertemuan dengan Teheran. Desakan tersebut muncul di tengah kekhawatiran regional bahwa kebuntuan diplomatik bisa berujung pada eskalasi militer.
“Mereka meminta kami untuk tetap mengadakan pertemuan dan mendengarkan apa yang dikatakan Iran. Kami telah mengatakan kepada negara-negara Arab bahwa kami akan melakukan pertemuan jika mereka bersikeras. Namun kami sangat skeptis,” kata seorang pejabat AS.
Lokasi Dipindah dari Istanbul ke Muscat
Sebelumnya, AS dan Iran telah sepakat menggelar perundingan pada Jumat di Istanbul dengan kehadiran negara-negara Timur Tengah lain sebagai pengamat. Namun, Iran pada Selasa mengajukan permintaan agar pembicaraan dipindahkan ke Oman dan dilakukan secara bilateral.
Teheran menyatakan format tersebut diperlukan agar fokus perundingan hanya pada isu nuklir, tanpa melebar ke persoalan lain seperti rudal balistik yang menjadi perhatian Washington dan negara-negara sekutunya di kawasan.
Meski sempat menolak perubahan tersebut, pemerintahan Trump akhirnya menyetujui lokasi baru setelah muncul laporan bahwa pertemuan terancam dibatalkan.
Pejabat AS lainnya menyebut keputusan melanjutkan perundingan diambil “untuk menghormati” sekutu AS di kawasan dan “untuk terus melanjutkan jalur diplomatik.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi melalui platform X bahwa pembicaraan akan digelar di Muscat, Oman, sekitar pukul 10.00 waktu setempat pada Jumat.
“Saya berterima kasih kepada saudara-saudara kita di Oman karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan,” tulis Araghchi.
Tiga Isu Utama Jadi Fokus
Menurut para pejabat, pembicaraan akan berfokus pada tiga isu utama: pengayaan uranium, kemampuan rudal balistik Iran, serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Pemerintahan Trump menegaskan Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium di dalam negeri. Sementara Iran menyatakan hanya bersedia membatasi pengayaan hingga 20 persen.
Washington juga menuntut pembatasan kemampuan rudal balistik Iran yang disebut telah mencapai jarak hingga 2.500 kilometer. Iran menolak tuntutan tersebut dan menyebut rudal sebagai bagian dari sistem pertahanan nasionalnya, merujuk pada serangan Israel pada Juni yang menewaskan lebih dari 1.000 warga Iran.
Selain itu, AS mendesak Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok non-negara di kawasan, tuntutan yang didukung Israel dan sejumlah pemerintah Arab. Iran menolak tudingan bahwa dukungan terhadap apa yang disebutnya sebagai “poros perlawanan” mengganggu stabilitas kawasan.
Israel dan Sekutu AS Tetap Waspada
Di tengah persiapan perundingan, Israel terus menyiapkan skenario militer. Pada Selasa, utusan Gedung Putih Steve Witkoff bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta sejumlah pejabat pertahanan senior untuk mengoordinasikan posisi menjelang pertemuan dengan Iran.
Witkoff juga dijadwalkan melakukan perjalanan ke Qatar bersama Jared Kushner sebelum melanjutkan ke Oman.
Para pejabat AS mengakui masih skeptis terhadap peluang tercapainya kesepakatan, mengingat minimnya terobosan dalam perundingan sebelumnya.
“Kami tidak naif terhadap Iran. Jika memang ada perundingan yang nyata, kami akan melakukannya tetapi kami tidak akan membuang-buang waktu,” kata pejabat AS.
