MADANINEWS.ID, YOGYAKARTA – Dalam hidup, setiap manusia membawa anugerah besar bernama hati—bukan sekadar organ biologis, tetapi pusat rasa, nurani, dan arah spiritual. Ustadi Hamsah, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengingatkan bahwa hati bisa menjadi modal ketakwaan jika disyukuri dengan benar, bukan sekadar dipakai untuk mengejar hal-hal duniawi.
Pesan itu ia sampaikan dalam ceramah di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Ahad (19/10), di hadapan jemaah yang menyimak khidmat.
“La’allakum tasykurun, supaya kita bersyukur,” ujarnya mengutip makna ayat dalam Surah An-Nahl ayat 78 dan Al-Mu’minun ayat 78 yang menegaskan bahwa manusia lahir tanpa pengetahuan, lalu diberi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani (afidah).
Syukur yang Bukan Sekadar “Syukuran”
Dalam pengajian itu, Ustadi menegaskan bahwa makna syukur sering kali disalahpahami.
“Bersyukur itu kita menggunakan, kita manfaatkan, kita nanjak semua anugerah yang diberikan kepada kita, potensi yang ada dalam diri kita, kesehatan, kesempatan, untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, untuk meningkatkan kebaikan-kebaikan kita. Itu namanya syukur,” jelasnya.
Ia mengingatkan, berbagi makanan dalam acara syukuran tentu baik, tetapi jangan sampai makna syukur direduksi hanya menjadi makan-makan.
Menurutnya, syukur sejati adalah memanfaatkan seluruh anugerah, termasuk hati, untuk menebar kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tiga Jenis Hati Menurut Hadis
Mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW, Ustadi mengibaratkan petunjuk dan ilmu dari Allah seperti hujan yang turun ke tiga jenis tanah, yang mewakili tiga tingkatan hati manusia:
-
Hati yang subur
Hati jenis ini mampu menyerap petunjuk Allah dengan baik dan menumbuhkan kebaikan bagi sekitarnya.
Cirinya, kata Ustadi, adalah:-
Selalu terdorong untuk berzikir, baik dengan lisan maupun perbuatan.
-
Terbebas dari penyakit hati seperti hasad, riya, ujub, dan takabur.
-
Gelisah ketika berbuat dosa, bahkan tidak ingin dosanya diketahui orang lain.
-
-
Hati yang sakit
Hati ini bisa menerima ilmu dan kebaikan, tetapi tidak mampu mempertahankannya. Seperti genangan air yang sebentar mengisi tanah lalu mengalir pergi, kebaikan tak bertahan lama.
“Hati seperti ini mulai diselimuti penyakit-penyakit hati,” ujarnya. -
Hati yang mati
Jenis ini sudah tertutup dari cahaya petunjuk. Ilmu dan nasihat apa pun tak lagi menyentuhnya.
“Hujan kebaikan dan ilmu sebesar apa pun akan langsung habis tanpa bekas,” kata Ustadi.
Hati seperti ini, lanjutnya, membenci zikir, condong pada kemaksiatan, dan tidak lagi merasa gelisah saat berbuat dosa.
Setiap Dosa Menorehkan Titik Hitam
Dalam penjelasannya, Ustadi mengingatkan bahwa setiap dosa akan meninggalkan noda di hati. Bila tidak segera disucikan dengan taubat, noda-noda itu akan menumpuk dan membentuk “ron” atau karat yang akhirnya mematikan hati.
Karena itu, taubat dan zikir menjadi dua langkah utama menjaga hati agar tetap hidup.
“Semoga kita semuanya dilindungi Allah dari hati yang mati, dan kita semuanya insyaallah hati kita hati yang sehat, hati yang bersih seperti tanah yang mampu menampung air, menghidupi rumput, tanam-tanaman hijau, dan bisa memberi pengairan, memberi kebaikan kepada siapapun,” pungkasnya penuh harap.
Ustadi mengajak jemaah untuk terus introspeksi diri. Hati yang sehat tidak didapat sekali jadi, tapi melalui kesadaran terus-menerus untuk memperbaiki diri.
Dengan menyadari kesalahan, segera bertaubat, dan memperbanyak zikir, seseorang bisa kembali menumbuhkan “tanah subur” dalam hatinya—tempat segala kebaikan tumbuh dan berbuah.
