MADANINEWS.ID, Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) bersama Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menegaskan komitmennya untuk berada di garda depan era baru keuangan berkelanjutan. Langkah itu diwujudkan dengan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam standar pelaporan global IFRS S1 dan S2 yang segera berlaku.
Komitmen tersebut diumumkan dalam acara Roundtable Discussion on ESG yang digelar BSI bersama Asbisindo, UNDP, dan UNEP FI. Forum ini mempertemukan regulator seperti OJK, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), hingga pimpinan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah untuk merumuskan strategi bersama menghadapi transisi global.
Kegiatan ini juga menjadi momentum lahirnya Kelompok Kerja (Working Group) Keberlanjutan di bawah Asbisindo, sebagai wadah permanen untuk koordinasi industri.
ESG Jadi Kebutuhan Strategis
Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, menegaskan bahwa penerapan ESG di industri perbankan syariah sudah menjadi hal yang mendesak.
“Penerapan ESG kini menjadi penilaian utama bagi investor global, lembaga rating, nasabah. Seiring dengan rencana OJK menyempurnakan POJK 51/2017 dan adopsi standar IFRS S1 & S2, pelaporan keberlanjutan harus terintegrasi penuh ke dalam strategi bisnis dan manajemen risiko,” ujarnya.
Bob menyebut, perbankan syariah memiliki modal besar karena prinsip ESG sejalan dengan Maqashid Syariah—keadilan, keberlanjutan, dan kemaslahatan. Namun, tantangannya ada pada aspek teknis: bagaimana menerjemahkan kontrak, struktur pembiayaan, dan prinsip etika syariah menjadi metrik yang terukur sesuai standar global.
“Bagi perbankan syariah, penerapan ESG sangat relevan karena nilai-nilainya sudah melekat dalam prinsip syariah. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah nilai dasar itu menjadi sistem, kebijakan, dan metrik yang terukur agar diakui secara global. Prinsip syariah yang sejak awal menekankan pada keberlanjutan dan menghindari mudarat memberi kita modal yang kuat untuk memenuhi standar global ini dengan narasi yang khas,” tegas Bob.
Forum Kolaborasi
Diskusi ESG ini dirancang sebagai ruang dialog kolaboratif, dengan fokus membedah persyaratan inti IFRS S1 (pengungkapan keberlanjutan) dan IFRS S2 (risiko iklim). Forum juga membahas tantangan praktis penerapannya di industri syariah, serta peluang kolaborasi untuk menyusun panduan teknis bagi seluruh bank syariah.
“Kami berharap, pembentukan Kelompok Kerja (Working Group) Keberlanjutan di bawah naungan Asbisindo menjadi platform permanen untuk berbagi wawasan, praktik terbaik, dan memberikan masukan konstruktif kepada regulator, memastikan perbankan syariah Indonesia tidak hanya siap, tetapi juga mampu memimpin dalam agenda keuangan berkelanjutan,” tutup Bob.
