IBADAH.ID, Jakarta – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menggelar pagi ini (25/07) menggelar High Level Discussion (Diskusi Tingkat Tinggi) bertajuk “Indonesia: Pusat Ekonomi Islam Dunia” di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat.
Diskusi ini menghadirkan para pakar dan tokoh nasional seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Bappenas/Menteri PPN Bambang Brodjonegoro, Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, Pakar Ekonomi Islam Adiwarman Karim, Katua Badan Amil Zakat Nasional Bambang Soedibyo, hingga Pakar Ekonomi dan Cendekiawan Emil Salim.
Mengawali diskusi, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menerangkan meski telah lama berkembang di Indonesia sejak adanya Bank Muammalat, namun nyatanya Keuangan Syariah indonesia masih jalan di tempat. Padahal, Indonesia salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
“Tapi yang selalu jadi perhatian kita kadang pertanyaan kenapa dengan jumlah penduduk muslim dianggap terbesar di dunia, islamic finance (pembiayaan syariah) seolah-olah jalan ditempat karena ada suatu peridoe sulit sekali aset perbankan syariah melewati 5% dari total aset perbankan,” kata Bambang.
Bambang menilai lambatnya perkembangan keuangan syariah ini disebabkan sektor riil yang terafilisasi belum berkembang dengan baik. Sebab itu, dalam diskusi ini pemerintah mengajak semua pemangku kepentingan untuk mencari jalan mendorong sektor keuangan serta sektor riil syariah.
“Kita harapkan diskusi meskipun menyinggung sektor keuangan tapi yang kami harapkan adalah untuk kemudian memberikan pandangan, complain, menyampaikan usulan supaya sektor riil syariah, halal industri bisa berkembang lebih pesat di Indonesia,” papar Bambang.
Menurutnya, penguatan ekonomi syariah lewat industri halal bisa mengurangi current account defisit atau defisit transaksi berjalan. Menurut dia, jika defisit transaksi bisa dikurangi yang ujungnya bisa memperkuat nilai tukar rupiah.
“Industri ini ngga main-main, kalau benar bisa menyumbang bagi trade ballance dan defisit transaksi,” imbuh Bambang. Salah satu caranya, lanjut Bambang, adalah melalui peningkatan ekspor produk dan jasa berbasis syariah.
Ia menambahkan pengembangan sektor pariwisata melalui halal tourism dan busana muslim berpotensi mengurangi defisit transaksi berjalan di atas.
“Busana kita, secara umum itu lebih banyak impor dibandingkan ekspor. Kalau neraca ini bisa diperbaiki tentu akan membantu trade balance dan mengurangi defisit,” ujar Bambang.
Karena itu, saat ini yang diperlukan untuk mendukung hal ini, diperlukan adanya pencarian pasar baru (market creation) dan juga pembuatan produk baru yang berstandar syariah. Jika dua hal ini sudah bisa dipetakan, Bappenas menyebutkan, harus didukung fasilitas atau insentif untuk ekspor.
