MADANINEWS.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau para calon jamaah haji untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat sejak dinyatakan berhak berangkat ke Tanah Suci. Imbauan ini disampaikan sebagai upaya menekan angka kematian jamaah yang tercatat cukup tinggi setiap tahunnya.
Hingga hari ke-45 penyelenggaraan ibadah haji 1446 Hijriah/2025 Masehi, berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu bidang Kesehatan (Siskohatkes), tercatat sebanyak 298 jamaah Indonesia telah wafat.
“Ketika seseorang sudah mendapatkan kuota haji, secara otomatis sudah menjadi jamaah haji. Oleh karena itu, jamaah yang sudah mendapatkan nomor porsi haji, jauh-jauh hari sudah harus mempersiapkan diri dengan melakukan gaya hidup sehat, rajin olahraga, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (17/6).
Liliek menggarisbawahi bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik yang menuntut kesiapan jasmani dan mental tinggi. Selain kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi, proses perjalanan panjang dari daerah asal ke embarkasi, lalu terbang ke Jeddah atau Madinah selama sekitar sembilan jam, membutuhkan stamina prima.
“Belum lagi penerbangan ke Arab Saudi selama sembilan jam. Bisa dikatakan ibadah haji itu sesungguhnya ibadah yang menuntut kekuatan fisik,” tegasnya.
Aktivitas Padat dan Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Kematian
Menurut Liliek, angka kematian jamaah meningkat tajam pascapuncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Dalam beberapa hari terakhir, jumlah wafat mencapai belasan orang per hari. Bahkan, banyak jamaah gagal pulang karena kondisi fisik yang menurun saat berada di bandara.
Salah satu penyebabnya adalah padatnya agenda ibadah yang disusun oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), seperti umrah sunnah berulang kali, ibadah Arba’in di Masjid Nabawi, hingga kegiatan ziarah yang seringkali dijalani tanpa mempertimbangkan kemampuan fisik jamaah.
“Suhu di Kota Makkah bisa mencapai hingga 48 derajat Celsius. Orang Arab sendiri tidak keluar di siang hari, maka kita yang dari daerah sejuk dan nyaman, kalau mau ke Masjidil Haram sebaiknya malam hari saja, itupun jika kondisi kesehatannya baik-baik saja,” kata Liliek.
Ia juga mengungkapkan bahwa pasien rawat inap sementara di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Makkah umumnya mengalami sesak napas dan gangguan jantung akibat kelelahan fisik dari rangkaian ibadah umrah yang berulang-ulang.
Karena itu, Liliek menekankan pentingnya koordinasi petugas dan pendamping jamaah haji. Mulai dari KBIHU, ketua regu, rombongan, hingga ketua kloter, semuanya diimbau untuk aktif mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan diri dalam beribadah, terutama saat kondisi fisik tidak mendukung.
“Persoalan kesehatan jamaah seringkali juga berkaitan dengan tingginya ritme aktivitas ibadah di luar ruangan. Maka itu, perlu dukungan dari petugas haji dan KBIHU untuk menjaga ritme ibadah jamaah tetap seimbang,” pungkasnya.
