MADANINEWS.ID, JAKARTA – Setiap musim haji, ribuan umat Islam Indonesia kembali dari Tanah Suci dengan membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Namun, lebih dari itu, banyak di antara mereka juga membawa gelar kehormatan: “Haji” atau “Hajjah”—gelar yang telah menjadi bagian penting dari identitas keagamaan masyarakat Muslim Indonesia.
Tapi tahukah Anda, gelar ini tak hanya mencerminkan keberhasilan menjalankan rukun Islam kelima? Ia menyimpan sejarah panjang, regulasi ketat era kolonial, dan nilai sosial yang kuat di masyarakat.
Perjuangan di Balik Gelar “Haji”
Pada masa lalu, menunaikan ibadah haji bukan perkara mudah. Jamaah harus menempuh perjalanan laut yang bisa memakan waktu berbulan-bulan, melewati badai, perompak, dan gurun pasir yang ganas. Tak heran, sepulangnya ke tanah air, mereka disambut bak pahlawan.
Penyematan gelar “Haji” saat itu menjadi bentuk penghormatan dan simbol keberhasilan spiritual yang luar biasa. Di tengah masyarakat, gelar ini juga memperkuat status sosial, karena hanya segelintir orang mampu menunaikan ibadah mahal dan berat tersebut.
Kolonial Belanda Pernah Atur Gelar Haji
Pada masa penjajahan Belanda, gelar “Haji” bahkan menjadi urusan negara. Lewat Staatsblad No. 42 Tahun 1859, pemerintah Hindia Belanda mewajibkan calon haji untuk mengurus izin resmi sebelum berangkat ke Mekah.
Tak berhenti di situ, setibanya kembali, mereka harus menjalani proses verifikasi ketat—mulai dari pemeriksaan administratif hingga pengujian keaslian ibadah. Hanya yang lolos yang berhak menyandang gelar “Haji” secara resmi dan mengenakan pakaian khas haji.
Namun, kebijakan ini tak lepas dari kritik. Dua tokoh kolonial ternama, Karel Frederik Holle dan Snouck Hurgronje, menyuarakan penolakan. Hurgronje bahkan menyarankan agar gelar dan pakaian haji dibiarkan bebas agar maknanya memudar. Meski demikian, aturan ini baru dicabut pada 1902 karena jumlah jamaah haji yang meningkat drastis membuat verifikasi menjadi tak lagi praktis.
Gelar Haji dalam Kehidupan Sosial-Religius
Kini, meski perjalanan haji jauh lebih mudah berkat teknologi dan sistem administrasi yang modern, gelar “Haji” dan “Hajjah” tetap punya bobot makna besar. Ia menjadi simbol kesalehan, penghargaan sosial, dan pencapaian spiritual.
Tak sedikit yang menganggap pemilik gelar “Haji” lebih bijak, religius, dan patut dijadikan panutan. Meskipun demikian, para ulama mengingatkan agar gelar ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan kontribusi sosial.
Simbol yang Terus Hidup
Dari masa ke masa, gelar “Haji” di Indonesia telah melampaui sekadar identitas keagamaan. Ia kini menjadi bagian dari kebudayaan Muslim Nusantara, mencerminkan sejarah perjuangan, komitmen spiritual, dan penghormatan masyarakat.
Meski waktu berubah, makna dan nilai yang melekat pada gelar ini tetap kokoh. Ia adalah jejak perjalanan ruhani, prestise sosial, sekaligus pengingat akan keteguhan iman yang melampaui zaman.
