Ulama Kharismatik Betawi, KH Saifuddin Amsir Tutup Usia

Penulis Abi Abdul Jabbar
IBADAH.ID, Jakarta – Kabar duka datang dari dunia keislaman nusantara, seorang ulama kharismatik Betawi, KH Saifuddin Amsir wafat di Rumah Sakit OMNI Rawamangun, Jakarta, Kamis (19/7) dini hari sekitar pukul 01.30.
Kiai kelahiran 31 Januari 1955 ini dikenal sebagai salah satu ulama Betawi yang berpengaruh di Jakarta pernah menjabat sebagai Mustasyar PBNU masa khidmah 2015-2020.
Selain aktif berceramah di majelis-majelis ta’lim dan menulis beberapa kitab, KH Saifuddin Amsir juga mengasuh Ma’had Aly Zawiyah Jakarta.
Saat ini jenazah KH Saifuddin Amsir disemayamkan di rumah duka, Kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Jenazah akan dikebumikan di sekitaran Ma’had Zawiyyah dekat rumah duka, yang dibinanya selama ini.
Karya-karya KH Saifuddin Amsir
Semasa hidupnya, selain mengasuh di pondok pesantren. ia juga mengisi ceramah dalam berbagai acara, dan rutin di menyampaikan pengajian di berbagai majelis ta’lim. Ia juga terkenal cukup produktif dalam menulis dan telah menghasilkan beberapa karya. Berikut karya-karyanya:
  1. Tafsir Jawahir al-Qur’an (empat jilid),
  2. Majmu’ al-Furu’ wa al-Masail (tiga jilid),
  3. Al-Qur’an, I’jazan wa Khawashan, wa Falsafatan

Karya yang disebut terakhir merupakan magnum opus/masterpiece (karya besar) Kiai Amsir yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Pasalnya, selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawahir al-Qur’an (hlm. 1-140), Al-Dzahab Al-Ibriz fi Khawashil Qur’an al-Aziz (142-172), Qanun al-Ta’wil (173-184). Ketiganya karya Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali .
Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab, antara lain Fadhāil al-Qur’ān karya Syeikh al-Hāfidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajāib al-Qur’ān karya Syeikh Fakhruddin al-Rāzī (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawāsi al-Qur’ān al-Karīm karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623). Komentar (syarah) yang ditulis Kiai Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut.
Dalam menyusun karyanya, ia memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an. Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid

BACA JUGA

Tinggalkan komentar