MADANINEWS.ID, JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), kembali berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang gemilang di tengah ketidakpastian perekonomian global karena memanasnya geopolitik dunia serta tingginya suku bunga acuan. BSI membukukan laba bersih sebesar Rp5,70 triliun sepanjang 2023, tumbuh 33,82% secara tahunan (year on year/yoy).
Kontributor utama penopang kinerja positif BSI sepanjang tahun 2023 di antaranya adalah pembiayaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan dana murah yang tumbuh dua digit, respon strategi yang tepat serta model bisnis yang fleksibel dan terdigitalisasi.
BSI berkomitmen senantiasa melakukan optimalisasi literasi inklusi keuangan syariah di seluruh sektor potensial. Business model yang fleksibel dan terkoneksi dengan digital juga memberikan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan kinerja.
Dengan business model yang fleksibel dan terdigitalisasi, BSI mampu mengakses masyarakat di semua segmen, baik masyarakat individu atau ritel, pelaku UMKM, maupun korporat. Oleh karena itu, hadirnya BSI menjadi Beyond Sharia Banking menjadi hal utama. Di mana perseroan menawarkan produk serta jasa bank yang lebih variatif dengan skema keuangan yang tidak dimiliki oleh bank syariah lainnya.
Peran pemerintah juga ikut dorong sektor perbankan syariah Indonesia. Pemerintah mendukung regulasi perbankan syariah, sehingga memberikan peluang besar bagi BSI untuk ambil bagian dalam proyek-proyek nasional.
Dari sisi aset, BSI mencatatkan kenaikan aset hingga Desember 2023 sebesar 15,67% menjadi Rp354 triliun. Dengan posisi finansial tersebut, BSI masuk dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset.
Kenaikan aset didorong dari laju pembiayaan yang disalurkan dan dana pihak ketiga (DPK). Sepanjang 2023, BSI mencatat jumlah pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp240,32 triliun atau tumbuh 15,70% secara tahunan (yoy), dengan kualitas pembiayaan (NPF) gross membaik pada posisi 2,08%.
Komposisi pembiayaan yang disalurkan didominasi oleh segmen konsumer (54,32%), wholesale (28,09%) dan retail (17,58%).
Tingginya penyaluran pembiayaan di segmen berkelanjutan juga menunjukkan komitmen dan konsistensi BSI terhadap segmen tersebut. Hingga Desember 2023, pembiayaan berkelanjutan di BSI mencapai Rp57,7 triliun yang didominasi sektor UMKM sebesar Rp45,4 triliun, disusul sustainable agriculture Rp4,8 triliun, eco-efficient product Rp5,8 triliun, energi terbarukan Rp1,1 triliun dan proyek eco-green Rp549,6 miliar.
Kemudian, penghimpunan DPK BSI hingga Desember 2023 mencapai Rp293,77 triliun, tumbuh 12,35% (yoy). Dari jumlah tersebut, komposisi tabungan yang merupakan dana murah mencapai Rp124,73 triliun atau 40% dari keseluruhan DPK.
Selain itu, pencapaian kinerja positif BSI 2023 juga didukung oleh naiknya pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang naik 12,08% (yoy) menjadi Rp4,20 triliun.
Pada tahun 2023, customer based perseroan berkembang menjadi 19,65 juta nasabah dengan pertumbuhan mencapai 5 juta nasabah pasca merger, dan saat ini BSI menjadi bank syariah dengan customer based terbesar di dunia.
Adapun, terdapat rasio keuangan yang menunjukkan performa kuat BSI pada tahun 2023. BSI mencatatkan return of asset (ROA) sebesar 2,35%, dan return of equity (ROE) mencapai 16,88%, serta didukung oleh rasio pencadangan yang kuat pada posisi 194,35%. Kinerja yang baik juga ditopang oleh efisiensi yang tepat. Terlihat dari BOPO yang dapat ditekan dengan baik pada posisi 71,27% atau membaik dari posisi yang sama di tahun sebelumnya.
Pada pertumbuhan layanan E-Channel, jumlah pengguna BSI Mobile mencapai 6,3 juta orang dimana pembukaan rekening online on boarding (OOB) mencapai 86%.
Untuk meningkatkan layanan BSI di seluruh Indonesia, saat ini BSI telah memiliki lebih dari 1.100 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, 2.564 mesin ATM dan 86.200 agen laku pandai BSI Smart yang siap melayani masyarakat Indonesia.
Seluruh aset dan kekuatan ini akan dioptimalkan BSI untuk memberikan layanan dan produk finansial syariah yang lengkap dalam satu atap untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan nasabah dari berbagai segmen, mulai dari UMKM, ritel, komersial, wholesale, dan korporasi baik dalam maupun luar negeri.
Peringkat BSI di Perbankan Syariah Global
Kapitalisasi pasar (market cap) PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menembus Rp100 triliun, hal ini mendorong BSI naik peringkat ke posisi 11 dari sebelumnya ranking 13 di perbankan syariah global.
Hingga perdagangan Jumat (2/2/2024) saham BRIS mencatatkan kenaikan harga saham sejak awal tahun sebesar 33% dengan bertengger di level Rp 2.320 per saham.
Kenaikan harga saham tersebut seiring makin kuatnya kinerja perseroan secara fundamental. Di sisi lain, kinerja tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya kepercayaan investor.
Saham BRIS pun mencatatkan market cap sebesar Rp107,02 triliun hingga perdagangan Jumat (2/2/2024). Pencapaian tersebut semakin mendekatkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) pada salah satu aspirasi besarnya, yaitu menjadi Top 10 Global Islamic Bank.
Sebagai gambaran, pada akhir 2022 market cap PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) baru mencapai Rp59,51 triliun. Adapun pada Desember 2023 naik menjadi Rp80,26 triliun.
Pada akhir 2023 jumlah investor institusi di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik menjadi sekitar 70% dibanding sekitar 60% pada akhir 2022. BSI tidak hanya menarik bagi investor domestik tapi juga asing.
