IBADAH.ID, Garut – MAARIF Institute kembali menyelenggarakan Jambore Pelajar Teladan Bangsa yang ke-6 di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut pada 8-13 Juli 2018. Kegiatan ini diikuti tak kurang dari 110 pelajar se-Indonesia, dari Sumatera Utara hingga Sulawesi Selatan. Mereka adalah pelajar terpilih dari 400 lebih pelajar di seluruh Indonesia. Para peserta terpilih merupakan pelajar yang lolos seleksi setelah menyampaikan visi besar untuk bangsa dalam bentuk esai dan vlog.
Kegiatan ini merupakan upaya untuk memperkuat persaudaraan antar anak bangsa, dengan cara merajut harmoni tanpa melihat sekat-sekat primordialisme. “Agar terwujud suatu toleransi aktif, yang mengarah pada toleransi kewargaan”. kata Direktur Eksekutif MAARIF Institute.Muhd. Abdullah Darraz.
para peserta melakukan kunjungan dan dialog antar iman ke Masjid dan
Gereja Pos di Kampung Parakan Muncang, Cilawu, Garut. Di Gereja yang berada di bawah naungan GKP Garut tersebut, para peserta diterima dengan hangat oleh Pak Jojon,
sesepuh Kristen setempat. Sedangkan di Masjid, pengurus DKM setempat menyambut peserta tak kalah hangat.
Kunjungan dan dialog ini merupakan upaya untuk meneguhkan persaudaraan anak bangsa dengan cara belajar langsung kepada masyarakat akar rumput yang selama puluhan tahun berhasil merajut harmoni dalam perbedaan tanpa melihat sekat-sekat teologis
“Berbagai praktek keteladanan dari kehidupan akar rumput perlu diketahui oleh generasi muda zaman now, agar mereka punya bekal untuk menyongsong masa depan. Ini upaya yang bisa kami tempuh untuk mewujudkan harmoni antar anak bangsa,” papar Manajer Program MAARIF Institute, Pipit Aidul Fitriyana,
Dalam penuturannya, DKM setempat menyampaikan pada para pelajar bahwa di Parakan
Muncang yang diutamakan adalah hubungan kekeluargaan. Karena pernikahan antar pemeluk yang berlainan iman, sudah beberapa kali terjadi di kampung ini. “Yang utama adalah kekeluargaan.
“Kalau kita undang penceramah dari luar kampung, kita kasih batasan supaya tidak menerobos keyakinan yang lain. Supaya tidak menyakiti yang lain. Karena di sini semuanya keluarga,” ujarnya.
Di tempat terpisah namun dalam waktu yang bersamaan, Pak Jojon juga menuturkan
bahwa hubungan kekeluargaan menjadi hal yang utama. Dengan penuturan yang jenaka, ia menyampaikan bahwa keimanan merupakan urusan tiap individu. Namun menciptakan kehidupan harmoni adalah tugas bersama masyarakat.
“Keimanan biar menjadi urusan bapak, juga urusan kalian masing-masing. Namun membangun desa harus kita bersama,” tuturnya.
Selama berdialog di dua tempat ibadah tersebut, para peserta disuguhi informasi-informasi menarik yang membuat mereka antusias untuk bertanya. Seperti bantuan yang dilakukan oleh penganut agama Kristen ketika membangun masjid, pun sebaliknya. Serta anggota keluarga Pak Jojon yang berlainan iman, di mana istri Pak Jojon merupakan seorang muslimah hingga ia wafatnya pada tahun lalu. Dan dari 4 orang anak yang ia miliki, 2 diantaranya memeluk agamaIslam, sementara 2 lainnya memeluk agama Kristen
