Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Ciptakan Ekosistem UKM Go Ekspor, Kemitraan Pelaku UKM dan Agregator Diperkuat

Irawan Nugroho
17 September 2022 | 16:13
rubrik: News, Nusantara
Ciptakan Ekosistem UKM Go Ekspor, Kemitraan Pelaku UKM dan Agregator Diperkuat

Salah satu UKM Ekspor di Tangerang, Banten

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, Jakarta — Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) melalui Deputi Bidang UKM menggelar kegiatan Pengembangan SDM UKM Berbasis Kemitraan dengan agregator dan UKM Ekspor di Tangerang, Banten, guna menciptakan ekosistem UKM Go Ekspor.

Asisten Deputi Pengembangan SDM Usaha Kecil dan Menengah Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Dwi Andriani Sulistyowati mengatakan, upaya ini dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian target kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas sebesar 17 persen pada 2024. Diketahui capaian kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas saat ini baru sekitar 15,7 persen di bawah kontribusi UMKM China, India, dan Vietnam.

“Pelaku UKM Go Ekspor membutuhkan pengetahuan tentang tren pasar produk ekspor, market intelegensi, dan pengembangan produk ekspor. Tentu dalam kegiatan ini, peran agregator sebagai narasumber dan pendamping UKM telah berbagi ilmu serta pengalamannya (transfer knowledge),” ucap Dwi dalam keterangan resminya, Sabtu (17/9).

UKM Masih Banyak Yang Produksi Produk Tidak BerdasarTren

Transfer knowledge dilakukan melalui ulasan dan masukan langsung dari agregator, desainer produk, dan praktisi ekspor dari setiap produk yang dihasilkan dan dipresentasikan oleh masing-masing UKM.

Dengan begitu, dalam kegiatan pengembangan SDM UKM Berbasis Kemitraan antara agregator dengan UKM ekspor ini tak hanya diberikan teori penunjang, namun juga diberikan praktik langsung. ”Memang ada tahapannya, teori sekitar 30-40 persen. Kemudian kita ajak ke workshop langsung praktik, UKM mengamati, meniru, dan memodifikasi yang disebut ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), ditambah adanya success story dari para agregator yang juga sebagai pelaku UKM, untuk menyemangati mereka,” ucapnya.

Karena menurut Dwi, UKM masih memiliki kelemahan salah satunya dalam memproduksi produk tidak melihat tren. Maka perlu didatangkan pakar di bidang desain produk, agregator, dan buying representatif.

See also  LPDB-KUMKM Diminta Memiliki Visi dan Kemampuan Besar Dalam Memperkuat Koperasi

Kegiatan ini, katanya, merupakan wadah para pelaku UKM untuk berinteraksi dan saling mengenalkan usaha (company profile) masing-masing. Dengan membangun jaringan (networking) akan menjalin kolaborasi dan sinergi antar sesama pelaku UKM untuk menciptakan dan memproduksi produk-produk kreatif baru dengan kualitas ekspor.

“Hasil yang diharapkan adalah, para pelaku UKM juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok agregator dan usaha besar berskala ekspor. Dengan melakukan kegiatan langsung di pabrik, para pelaku UKM mendapatkan pengalaman langsung bagaimana proses produksi,” kata Dwi.

Sehingga outcomenya nanti, UKM bisa memasarkan produknya sendiri terutama tidak melalui trading house. Dijelaskan Dwi, terdapat perbedaan antara trading house dengan agregator. Trading house sendiri merupakan perusahaan jasa yang bisa menyelesaikan administrasi tentang ekspor tapi dikenakan biaya.

“Ketika buyernya komplain, trading house tidak bertanggung jawab. Kalau agregator, mereka sebagai praktisi juga pelaku, memiliki pengetahuan tentang seni disain. Jadi ketika ada komplain, mereka dapat menampung terlebih dahulu, kemudian bisa diselesaikan bersama ditambah mereka juga melakukan pembinaan dan berkontribusi terhadap kemajuan UKM,” kata Dwi.

Tidak Semua UMKM Sanggup Penuhi Mekanisme Pembayaran Pembeli Luar Negeri 60 Hari Jatuh Tempo

Senada, Pemilik PT Homeware Internasional Indonesia Edmond Setiadarma mengaku sangat aware pada permasalahan UKM. Melalui perusahaannya, ia berkomitmen untuk membantu para pelaku UMKM dalam melakukan ekspor.

“Tidak semua UMKM memiliki akses pasar ekspor dan kapasitas produksi yang besar. Kami bantu mengumpulkan produk mereka supaya dapat memenuhi permintaan pembeli. Umumnya pesanan dari luar negeri memiliki spesifikasi permintaan yang tinggi, kami lakukan standardisasi produk,” kata Edmond.

Edmond menambahkan, hal yang sama terjadi dari sisi pembiayaan, tidak semua UMKM sanggup memenuhi mekanisme pembayaran dari pembeli luar negeri yang bisa mencapai 60 hari jatuh tempo. Hingga permasalahan yang sering dialami, belum semua UMKM memahami persyaratan dan perizinan ekspor.*

See also  LPPOM MUI dan JPI Jalin Kerjasama Dalam Industri Halal
Previous Post

MenKopUKM Mengajak Mahasiswa Mulai Bangun Usaha dan Berkoperasi

Next Post

OJK Dorong UMKM Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks