MADANINEWS.ID, JAKARTA — Sama halnya dengan penyakit fisik, penyakit hati ada sebab dan akibatnya, selain itu juga obatnya. Di bawah ini akan kita uraikan sebab-sebab penyakit hati.
Selain menjelaskan jenis penyakit hati, para ulama salaf juga memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengannya seperti sebab, akibat dan obatnya. Salah satunya sebab-sebab penyakit hati.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah dalam kitabnya Ihya’ ’Ulumudinmenyebutkan beberapa jenis penyakit hati. Di antaranya al-kibr (sombong), al-‘ujb (berbangga diri), ar-riya’ (pamer amal) dan an-nifaq (kemunafikan).
Terkait sebab penyakit hati, Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahdalam kitabnya Ighatsah al-Lahfan fi Mashoid asy-Syaithon mengatakan, yang artinya: “Bergaul dengan orang yang berpenyakit hati menimbulkan penyakit hati, bersahabat dengannya menyebabkan hati mengalami ‘keracunan’, danbersatu dengannya menyebabkan hati ‘binasa’.”
Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa menyatakan, yang artinya: “Tidaklah timbul penyakit fisik kecuali karena faktor lemahnya penunjang hidup sehat. Begitu pula hati, tidak bisa berpenyakit kecuali karena faktor lemahnya iman.”
Sementara itu, Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Ibnu Hajar Al Asqalani disebutkan bahwa Hasan Al-Bashri pernah berkata, Rusaknya hati itu disebabkan oleh enam hal:
Pertama, sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak tobatnya diterima. Berapa banyak orang-orang dengan senang hati melakukan dosa, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Kalau tidak bermaksiat tidak nikmat, begitu toreh orang-orang yang bermaksiat. Bagi yang senang bermaksiat Allah akan datangkan azab yang dahsyat.
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-Anam: 44)
Kedua, mempunyai ilmu, tapi tidak mengamalkannya. Dari Usamah bin Dzaid dikisahkan ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan ke dalam neraka. Apa yang ia perbuat sampai dilemparkan ke dalam neraka? Karena ia dulunya memerintahkan orang untuk untuk berbuat kebaikan sedangkan dirinya sendiri tidak mengamalkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, beramal tapi tidak ikhlas. Hal ini tidaklah baik, karena dalam beramal penting sekali untuk iklas dalam beramal. Amal tidak ikhlas tiada gunanya.
Keempat, memakan rezeki dari Allah SWT, tapi tidak bersyukur. Rezeki yang Allah SWT berikan sudah seharusnya untuk disyukuri, ketahuilah orang yang bersyukur ialah orang yang paling bahagia dalam hidup ini. Allah akan menambahkan nikmat bagi mereka yang bersyukur, sebaliknya Allah akan melaknat orang-orang yang kufur nikmat.
Kelima, tidak ridha dengan pemberian Allah SWT. Menerima pemberian Allah SWT dengan sebenar-benar menerima menjadi perbuatan yang terpuji, sebaliknya hanya akan mendatangkan murka Allah.
Keenam, menguburkan jenazah, tapi tidak mengambil pelajaran darinya. Ambillah hikmah dari setiap kejadian, begitu juga ketika kita menguburkan jenazah. Hal ini menyadarkan kita akan hidup dan mati adalah milik Allah SWT.
