MADANINEWS.ID, JAKARTA – Adanya pandemi Covid 19 membuat cara hidup masyarakat berubah. Jika sebelumnya banyak melakukan aktifitas di luar rumah, kini lebih banyak tertahan di dalam rumah. Perubahan ini secara otomatis mempengaruhi konsep fesyen dan cara orang berpakaian. Menurut Dina Midiani, Advisory Board dari Indonesian Fashion Chamber (IFC), saat ini konsep fesyen berubah kepada nuansa kasual, nyaman dan lebih mengarah pada keseharian dibandingkan busana formal. Gaya seperti ini dipercaya akan menyatu dalam kehidupan masyarakat ke depannya.
“Konsep fesyen yang berorientasi pada aktifitas keluar akan banyak berkurang sampai nanti vaksin ditemukan,” katanya dalam release yang diterima Madani di Jakarta (4/12).
Industri Fesyen Perkenalkan Konsep The New Beginning
Menurut Dina Midiani kembali, pada saat ini pelaku industri fesyen sedang memperkenalkan konsep “The New Beginning” yang menyesuaikan tren dan bahan sesuai kebutuhan pasar.
“Sebab respon orang terhadap pandemi ini berbeda-beda. Ada yang berpikir logis spiritualis, maka konsep minimalis, simpel dan praktis menjadi pilihan mereka. Pilihan warnanya pun lebih yang mudah dipadupadankan. Ada juga segmen yang menghargai proses kerja, biasanya lebih cenderung memilih pakaian yang ada pekerjaan tangannya. Namun kelompok yang tetap ingin tampil keluar pun masih tetap eksis, sehingga konsep busana extravaganza masih banyak peminatnya.”
Dina juga menyarankan pelaku industri tekstil harus mulai memikirkan bahan yang tahan lama dan higienis selama masa pandemi ini, khususnya jika memproduksi masker. Penekanannya lebih kepada bagian riset dan pengembangan.
“Apalagi industri ini menyerap tenaga kerja yang sangat banyak, mulai dari konseptor, produksi, distribusi, pemasaran, promosi dan sebagainya. Fesyen adalah kebutuhan yang cukup tinggi karena orang membeli busana untuk berbagai alasan, salah satunya adalah untuk menampilkan citra diri,” imbuhnya.
Busana Rumahan Tengah Naik Daun
Dihubungi terpisah, pelaku industri fesyen lokal asal Bandung dan pemilik Cottonology, Carolina Danella Laksono mengatakan bahwa industri fesyen di kota kembang mulai kembali menggeliat dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap produknya, khususnya busana rumahan.
“Kami telah membuka konter di empat departement store dan satu toko tahun ini. Setelah beberapa bulan pertumbuhan bisnis terkoreksi karena korona, di kuartal keempat 2020 ini sudah mulai kembali ke titik normal. Bahkan prediksi kami akan melebihi dari kuartal yang sama tahun lalu,” tuturnya.
Dengan dibukanya empat gerai di kota Bandung serta satu offline store, membuat kebutuhan sumber daya manusia di bidang produksi pun ikut meningkat.
“Di kuartal ini kami menambah jumlah karyawan sebanyak 25 persen dari kuartal pertama saat pertama kali pandemik ini masuk ke Indonesia. Tentu ini adalah sesuatu yang sangat kami syukuri karena bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Pakaian Memanipulasi Penampilan Juga Meningkat
Tingginya minat terhadap pakaian yang bisa “memanipulasi penampilan” pun direspon Cottonology dengan memproduksi koleksi busana wanita terbaru. Menurut Olin, banyak sekali wanita yang ingin terlihat kurus namun dengan pakaian yang nyaman.
“Karena itulah baru-baru ini kami meluncurkan koleksi pakaian wanita yang ukurannya dibuat untuk membentuk badan terlihat lebih kurus,” ujar lulusan University of California, Berkeley ini.
Cottonology berhasil masuk top selling ranked di platform e-dagang Indonesia seperti Shopee, Lazada, BliBli, Tokopedia, JD ID dan BukaLapak. Saat ini produk asli dalam negeri tersebut menjual lebih dari 400 ribu item pakaian pria di seluruh Indonesia.*
