Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Kemenag akan Kembangkan Computational Thinking di Pesantren

Abi Abdul Jabbar Sidik
18 November 2020 | 07:00
rubrik: News, Nusantara
Kemenag akan Kembangkan Computational Thinking di Pesantren
Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Kementerian Agama juga akan mengembangkan Computational Thinking (CT) di pesantren. Computational Thinking (CT) adalah proses berfikir untuk memformulasikan persoalan dan solusinya secara efektif, efisien, dan optimum. 

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani. Menurutnya, penerapan CT pada pesantren di Indonesia dapat segera direalisasikan. Kekuatan masa depan berada pada kekuatan teknologi digital. Oleh sebab itu para santri harus menguasai teknologi digital.

“Kita sedang mengembangkan injeksi computational thinking untuk siswa madrasah, membiasakan siswa-siswa mulai dari madrasah ibtidaiyah dengan logika komputasi. Ke depan juga hal sama perlu dilakukan di pesantren,” ujar Ali Ramdhani, saat menghadiri agenda silaturahmi bersama Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj di Pondok Pesantren Al Tsaqafah, Selasa (17/11).

Guru besar teknologi informasi yang biasa disapa Dhani ini melanjutkan, computational thinking adalah bagian penting dari proses adaptasi, untuk menghadirkan anak zaman, menjadi anak dari sebuah dinamika zaman. Mereka adalah generasi yang beribukan waktu, berayahkan zaman, menari bersama zaman untuk menarikan zaman.

“Karena hidup kita bukan pada masa lalu, hidup kita pada masa sekarang dan masa depan. Dan orang yang piawai membaca masa depan dengan baik adalah orang yang akan menjadi pemilik masa depan,” tutup Dhani.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Tsaqafah, KH. Said Aqil Siradj juga menyambut baik formulasi computational thinking bagi siswa pesantren dan madrasah yang diinisiasi oleh Dirjen Pendis.

“Islam bukan hanya teologi dan ibadah, tetapi juga agama hadlarah dan tsaqafah. Dan hidup ini harus dinamis, tidak boleh puas dengan apa yang baru kita capai sekarang dan tidak boleh minder. Dan pasti kita bisa beradaptasi dengan computational thinking, karena ini adalah kunci untuk menguasai masa depan,” tandasnya.

See also  Rumah Kemasan Di Kuningan Diupayakan Segera Berdiri
Tags: computational thinkingpesantren indonesiaSaid Aqil Siradj
Previous Post

13 Jamaahnya Positif Corona, Saudi Larang Sementara Indonesia Kirim Jamaah Umrah

Next Post

Indonesia Rangking Empat Ekonomi Syariah Global

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks