Risalah Penggunaan Cadar di Indonesia

Penulis Abi Abdul Jabbar

MADANINEWS.ID, JAKARTA — ¬†Cadar atau dalam bahasa Arabnya disebut niqab sudah biasa dikenakan oleh perempuan di wilayah gurun pasir. Bahkan kebiasaan ini sudah berlangsung sejak zaman jahiliah sebelum datangnya agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Pakaian model niqab ini berlangsung hingga masa dakwah Rasulullah.¬†

Di sejumlah riwayat, Rasulullah tak pernah melarang penggunaan cadar namun juga tidak mewajibkan. Abdullah Ibnu Umar RA pernah meriwayatkan bahwa, Ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab di tengah kerumunan para sahabat dan Nabi mengenalnya juga tak melarangnya. 

Kisah tersebut juga diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibn Majah yang diinformasikan dari Aisyah, bahwa ia berkata, “Pada saat Nabi SAW sampai di Madinah -di mana saat itu beliau menikahi Shafiyyah binti Huyay- perempuan-perempuan Anshar datang mengabarkan tentang kedatangan Nabi. Lalu saya (Aisyah) menyamar dan mengenakan niqab kemudian ikut menyambutnya. Lalu Nabi menatap kedua mataku dan mengenaliku. Aku memalingkan wajah sembari menghindar dan berjalan cepat, kemudian Nabi menyusulku”. (HR. Ibnu Majah)

Sejarah Penggunaan Cadar di Indonesia

di Indonesia sendiri Fenomena cadar/niqab atau memakai jilbab lebar disertai penutup wajah dianggap baru . Mungkin baru muncul pada akhir 8an atau awal dan pertengahan 90-an.

Dalam catatan Buya Hamka, cadar atau jilbab dengan penutup wajah sudah dikenal di sebagian daerah di Indonesia sejak tahun 1920an. Buya menuliskan temuannya dalam Tasfsir Al-Azhar ketika menafisrkan Surat Al-Ahzab ayat 59. Berikut ulasannya:

Ketika penulis (Buya Hamka) datang ke Tanjung Pura dan Pangkalan Berandan dalam tahun 1926 penulis masih mendapati kaum perempuan di sana memakai jilbab. Yaitu kain sarung ditutupkan ke seluruh badan hanya separuh muka saja yang kelihatan. Asal saja mereka keluar dari rumah hendak menemui keluarga di rumah lain mereka tetap menutup seluruh badan dengan memasukkan badan itu ke dalam kain sarung dan salah satu dari kedua belah tangan yang memegang kain di muka sehingga hanya separuh yang terbuka bahkan hanya matanya saja.

Seketika penulis datang ke Makassar pada tahun 1931 sampai meninggalkannya pada tahun 1934 perempuan perempuan yang berasal dari Selayar berbondong-bondong pergi ke tempat mereka jadi buruh harian memilih kopi di gudang-gudang di pelabuhan Makassar, semuanya memakai jilbab persis seperti di Langkat itu pula.

Seketika penulis pergi ke Bima pada tahun 1956 penulis masih mendapati perempuan di Bima jika keluar dari rumah berselimutkan kain sarung sebagai di Langkat 1927 dan di Makassar 1931 itu pula.

Seketika penulis pergi ke Gorontalo pada tahun 1967 (40 tahun sudah berangkat) penulis dapati perempuan-perempuan Gorontalo memakai jilbab di luar bajunya meskipun pakaian yang di dalam memakai rok modern.

Pergerakan perempuan Islam di bawah pimpinan ulama-ulama pun membuat pakaian perempuan yang memegang kesopanan Islam yang tidak memperagakan badan.

Gerakan Aisyiyah di tanah Jawa atas anjuran K. H. Ahmad Dahlan  selain memakai Semar (selendang) yang dililitkan ke dada agar dada jangan kelihatan, di bawah pula untuk menutupi kepala. Ketika saya mulai datang ke Yogyakarta pada tahun 1924 (tiga tahun sebelum ke Tanjung Pura Langkat) kelihatan di samping khimar penutup kepala dan dada itu, Aisyah pun memakai jilbab di luarnya. Pakaian secara begini menjalar ke seluruh tanah air dalam pergerakan Islam. Almarhum Rangkayo Rahmah El-Yunusiyah mempertahankan khimaar dengan dililitkan pada muka dan kepala dengan kemas sekali; muka tidak ditutup. Seorang perempuan pergerakan yang sama pengguruannya dengan Rangkayo Rahmah El yunusiyyah yaitu Rangkayo Rasuna Said tidak pernah lepas khimar (selendang) itu dari kepala beliau.

Menjadi adat istiadat perempuan Indonesia jika telah kembali dari Haji Lalu memakai khimar, selendang yang dililitkan di kepala dengan di bawahnya di pasar dengan sanggul bergulung sehingga rambut lemas tidak kelihatan.

Tetapi di zaman akhir-akhir ini perempuan perempuan modern yang mulai tertarik kembali kepada agama lalu pergi naik haji di Jakarta 1974 pernah mengadakan suatu mode show pergerakan peragaan pakaian peragaan pakaian di Bali room hotel Indonesia memperagakan pakaian modern yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak menghilangkan rasa keindahan estetika.

Dalam ayat yang kita tafsirkan ini (QS.Al-Ahzab:59) jelaslah bahwa bentuk pakaian atau modelnya tidaklah ditentukan oleh Alquran yang menjadi pokok yang dikehendaki Alquran ialah pakaian yang menunjukkan iman kepada Tuhan pakaian yang menunjukkan kesopanan, bukan yang memperagakan badan untuk jadi tontonan laki-laki. [] Sumber: Tafsir Al-Azhar, jilid 8, hlm. 5783-5784.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar