Al-Quran Sebut Pernikahan Sebagai ‘Mitsaqan Ghalizhon’, Apa Maksudnya?

Penulis Abi Abdul Jabbar

 MADANINEWS.ID, JAKARTA — Allah tidak menyebut pernikahan sebagai akad (‘aqdan), akan tetapi sebagai perjanjian (mitsaaq) yang disifatkan sebagai perjanjian yang sangat kuat (Mitsaqan Ghalizon). Penggunaan kata tersebut tidak pernah dipakai dalam bentuk kegiatan apa pun selain pernikahan. Berikut surat yang menyebutkan bahwa pernikahan adalah perjanjian kuat pada QS. An-Nisa’: 20-21,

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (20) وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا – 21

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit  pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu akan mengambil kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. (QS. An-Nisa’: 20-21)

Kemudian dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa’id ibnu Jubair, bahwa yang dimaksud dengan Mitsaqan Ghalizon(perjanjian yag kuat)  adalah akad pernikahan. Selanjutnya, Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maksud dari Mitsaqan Ghalizonialah memegang dengan cara yang patut atau melepaskan dengan cara yang baik.

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Syuyuti dalam Tafsir jalalain  menyebut  mitsaq  sebagai bentuk taukid, artinya menekanan atau penegasan dari sebuah janji. Janji adalah komitmen, lebih dari sekedar janji. Sedangkan lafal Ghalizonberasal dari kata ghilzh yang artinya kuat, berat, tegas, kokoh.

Pendapat Ibnu Katsir dalam menafsirkan lafal Mitsaqan Ghalizon, ia mengutip hadis shahih dari Jabir dalam kitab Shahih Muslim yang menyatakan bahwa ketika seorang laki-laki mengambil perempuan dari orangtuanya dengan maksud dinikahi, berarti laki-laki tersebut telah melakukan perjanjian atas nama Allah sebagaimana ia telah menghalalkan melalui kalimat Allah. 

Lafal Mitsaqan Ghalizonjuga diartikan Sayyid Qutub pada Tafsir Fi Zhilaalil Qur’anbahwa Mitsaqan Ghalizonmerupakan perjanjian akad nikah, dengan nama Allah. Ini adalah perjanjian yang kuat yang tidak akan direndahkan, dengan begitu pasangan (suami dan istri) supaya menghormati perjanjian yang kuat ini.

Lafal akad yang diucapkan oleh laki-laki ketika menikahi perempuan disebut sebagai Mitsaqan Ghalizonsebagai perjanjian yang sangat kuat, maka, tidak boleh sembarangan. Dengan begitu, ada tanggungjawab serta konsekuensi di dalamnya. Pihak suami harus sadar ketika mengucapkan janji pernikahan tersebut. Isi dari janji tersebut sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya Qs. Al-Baqarah: 229,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ …..

Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh ruju lagi’ degan cara ma’ruf atau meceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al-Baqarah: 229).

Artinya dalam kondisi apa pun suami harus menjaga janji pernikahan, jika suatu pernikahan tidak bisa dipertahankan, sehingga memilih jalan perceraian, maka untuk melakukan perceraian juga harus dengan cara yang baik.

Namun, di sisi lain pada Tafsir al-Misbah karangan Quraish Shihab menanggapi nikah pada lafal Mitsaqan Ghalizonadalah ditinjau dari konteks diartikan sebagai mahar atau mas kawin. Disebabkan seorang wanita rela dan bersedia menyerahkan rahasianya yang terdalam kepada suaminya, memperbolehkan suaminya melakukan hubungan seks dengannya, dengan demikian mas kawin bukan berarti menggambarkan sebagai imbalan bersamanya. Karena kalaupun suami sudah memberikan mahar, akan istri tidak mau tidak digauli, maharpun tidak bisa diambil oleh suami.

Kemudian Sayyid Qutub menulis makna Mitsaqan Ghalizonpada kitab Tafsir Fi Zhilalalil Qur’an dari sisi konteks ialah mahar atau mas kawin, disebabkan sebagai mahar atau mas kawin karena pernikahan itu tidak mungkin ditiadakannya hubungan intim. Maka menyikapi hal tersebut diharuskan adanya mahar.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar