Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Hadits Anjuran Rasulullah untuk Tetap di Rumah Selama Wabah Penyakit

Abi Abdul Jabbar Sidik
29 April 2020 | 19:56
rubrik: Amaliyah, Indeks, Islamika
Hadits Anjuran Rasulullah untuk Tetap di Rumah Selama Wabah Penyakit

(foto:istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,” (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Secara umum hadis ini menjelaskan upaya-upaya lahir dan batin ketika muncul wabah penyakit seperti Covid-19 yang telah mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kalimat “Dahulu, tha’un adalah azab yang Allah” menunjukkan bahwa wabah penyakit yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW hingga saat ini bukanlah azab tetapi ujian atau cobaan yang Allah timpakan kepada orang-orang yang Dia kehendak, maka kita tidak pantas menuduh orang yang terkena pandemi Covid-19 sebagai orang yang terkena azab. Tak seorangpun yang mampu menghindari dari wabah penyakit jika Allah telah taqdirkan, dan wabah tidak akan menimpa orang yang Allah SWT lindungi. Sebaliknya, wabah tersebut dijadikan sebagai rahmat bagi orang-orang yang senantiasa menyakini bahwa tidak ada yang terjadi di alam semesta ini melainkan atas pengaturan Dzat Yang Maha mengatur.

See also  Gelar Rakor, Sesmenkop UKM Ingatkan Pentingnya Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW memberikan tuntunan saat wabah, antara lain:

Pertama: Tidak Keluar Rumah

Kalimat “kemudian ia menahan diri di rumah” merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika merebak wabah penyakit. Selogan #stay at home# merupakan salah satu metode memutus penyebaran wabah Covid-19, karena jika kerumunan masyarakat tidak dibatasi, niscaya penyebaran Covid-19 akan kian masif. Stay at home adalah pembatasan pergerakan berskala kecil dalam lingkup keluarga namun efektif dalam meminimalisir penyebaran Covid-19. Adapun dalam skala wilayah, Pemerintah Daerah memberlakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dengan kebijakan ini, seluruh aktivitas manusia dipindahkan ke rumah masing-masing. Murid/mahasiswa belajar di rumah, pekerja/ karyawan bekerja di rumah, bahkan kegiatan ibadahpun dipindahkan ke rumah. Beberapa masjid dan tempat ibadah lainnya yang berada di zona merah sudah dibatasi penggunaannya untuk sementara waktu seperti shalat Jumat diganti shalat Zhuhur di rumah, dan kegiatan peribadatan lainnya yang memicu keramaian. Perlu kami tegaskan, bahwa kita tidak sedang meninggalkan masjid/mushalla, tetapi ibadah shalat yang dilakukan di rumah dalam rangka menjalankan sunnah saat wabah.

Kalimat “menahan diri di rumah” dimaknai sebagai larangan mendatangi wilayah yang terdampak Covid-19 atau keluar dari wilayahnya yang terdampak Covid-19 ke wilayah lain sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu implementasi hadis ini adalah larangan mudik dari maupun ke wilayah yang terindikasi adanya penyebaran Covid-19. Larangan mudik ini bagian dari sunnah sebagai solusi efektif untuk menghentikan laju wabah virus corona dengan metode penguncian (lockdown).

Kedua: Sabar

Kalimat “dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya” merupakan sunnah atau tuntunan Nabi Muhammad SAW saat menahan diri di rumah. Sabar dalam arti menahan diri untuk tidak keluar dari wilayah yang terkena wabah sampai berakhir masa pandemi Covid-19 semata-mata mengharap ridha Allah, serta menyakini bahwa wabah tersebut adalah suratan taqdir Allah SWT tanpa mengeluh dan putus asa. Orang yang bertahan di rumah saat wabah niscaya mendapatkan pahala syahid walaupun ia tidak sampai meninggal dunia. Oleh karena itu, kita perlu menguatkan niat saat wabah Covid-19 ini, seraya berbaik sangka kepada Allah, tidak meninggalkan ikhtiar lahir maupun batin, dan kemudian bersabar serta bertawakkal kepada-Nya.

See also  Empat Judul Line Webtoon Diangkat Ke Layar Lebar

Sabar tidaklah dimaknai kepasrahan secara total, namun sabar harus dibarengi dengan usaha lahiriyah dan bathiniyah secara maksimal untuk mencegah penyebaran dan dampak buruk virus, antara lain: sering berwudhu, menjaga kebersihan, rajin mencuci tangan, menjaga imunitas tubuh, menerapkan jaga jarak (social/physical distancing), tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan yang mendesak, serta diiringi dengan tawakal kepada Allah SWT.

Ketiga: Meningkatkan Ibadah

Kalimat “serta mengharapkan ridha-Nya” adalah sunnah berupa usaha bathin dalam menghadapi wabah Covid-19. Selama masa karantina di rumah, hendaklah kita meningkatkan kualitas ibadah dan selalu berdoa memohon kepada Allah SWT agar pandemi Covid-19 segera lenyap dari Indonesia. Di bulan suci ini, rumah dapat dijadikan sebagai sentral ibadah di saat wabah, dimana segala rangkaian ibadah dapat dilakukan secara perorangan atau berjamaah bersama anggota inti keluarga di rumah, seperti tilawah Al Qur’an, shalat Dhuha, Shalat Tarawih dan Witir, berzikir, berbuka puasa, dan aktivitas ibadah lainnya. Kita dapat memanfaatkan momentum Ramadhan saat Covid-19 ini untuk menghiasi rumah dengan aktivitas ibadah sehingga rumah dapat menjadi saksi ibadah dan menjadikan rumah penuh berkah. Sekali lagi, beribadah di rumah tidak diniatkan meninggalkan masjid/mushalla namun diniatkan dalam rangka menjalankan sunnah saat wabah.

Hadis ini ditutup dengan kalimat “niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid”yaitu bagi siapapun yang berjuang menghadapi wabah Covid-19 dengan tetap di rumah dengan penuh kesabaran, ketawakkalan, dan menjalankan ibadah dengan baik niscaya meraih pahala seperti pahala orang yang wafat berjuang membela agama Allah SWT.

H. Subhan Nur, Lc, M.Ag

(Kepala Seksi Pengembangan Metode dan Materi Dakwah Dit. Penerangan Agama Islam)

Tags: hadits nabistay at homewabah penyakit
Previous Post

Masjid Diminta Tetap Kumandangkan Adzan Untuk Syiar di Tengah Pandemi Covid-19

Next Post

BAZNAS Ajak Masyarakat Donasi Lewat Aplikasi Tukar Poin GetPlus

Comments 16

  1. Tatang muhaemin says:
    6 years ago

    Intinya kita harus sabar dan d siplin dalam menjalani stay at home ini

    Reply
  2. Ika lestari says:
    6 years ago

    Kenapa masjid di tutup pada masa pandemi saat ini, sedangkan masjid adalah tempat ibadah, kenapa mall di buka

    Reply
    • --g ada nama says:
      5 years ago

      Mall/pasar tetap di buka agar ekonomi tetap berjalam

      Reply
  3. M. Hamim says:
    6 years ago

    Tdk pntg… Mengomentari itu… Percuma. Klu kami komentari tdk akan ada gunanya. Justru sebaliknya. Klau komenya berbeda di anggap melawan pemerintah……indinesia sudah krisis demokrasi.
    .

    Reply
  4. Harry says:
    6 years ago

    Assalammualaikum ustadz,saya Harry tinggal di NSW australia,Disini kondisi aman dibandingkan indonesia,Tapi istri saya Di indonesia,apa yang Harus saya lalu kan,Sudah terpisah dari bulan maret ,apakah saya Harus tetap bersabar untuk tidak mengunjungi indonesia,syukron ustadz

    Reply
  5. Pujianto says:
    6 years ago

    Klo dari hadist yang terkena wabah yang tinggal dirumah (karantina) :
    “tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah”
    Kenapa penafsirannya justru jadi seluruhnya harus dirumah ???
    Masjidnya kosong dong. Padahal masjid tempat paling dicintai Allah dan yang didalam masjid jadi jaminan Allah.
    Iblis saja takut apalagi cuma virus. Sampai saat ini tidak ada masjid yang jadi cluster Covid19 .

    Reply
  6. a says:
    6 years ago

    https://news.detik.com/berita/d-5112371/satgas-corona-ungkap-klaster-rumah-ibadah-dki-masjid-hingga-asrama-pendeta

    Reply
  7. Ryan says:
    6 years ago

    Maaf Tuan Yang berilmu disana dihadiskan Untuk tetap dirumah …hanya itu bukan untuk menjaga jarak ketika solat sekarang banyak yang merubah aturan dalam sholat antara lain menjaga jarak … itu bukan ajaran Nabi taubatlah buat kallian para pengubah anjuran atau aturan yang jelas jelas Rasull sudah ajarkan MasyaAllah

    Reply
    • Liem Hoo Lay says:
      5 years ago

      Pelan tapi pasti Islam makin ditenggelamkan justru oleh tokoh²nya sendiri yang entah apa yang ada difikirannya, berarti penyakit al wahn beriringan dengan covid yang berjalan dengan kompak.

      Reply
  8. Lukman Hakim says:
    5 years ago

    Sejak kapan arti balad diartikan dirumah ini sudah lebih melenceng dan memalsuian hadis anda menipu umat dgn menyuruh diam dirumah padahal dlm hadis tdb tdk ada nabi menyuruh dirumah alangkah dosa besar mengatakan dari nabi padahal paham otaknya sendiri Nabi bersabda Barang siapa yg mengatakan ini dariku padahal bukan dariku makan siap siap tempat duduknya api neraka. Waduh hebat anda mengaku pengikut Nabi SAW padahal……… Silahkan isi yg cocok.

    Reply
  9. Liem Hoo Lay says:
    5 years ago

    bagaimanapun dengan sabda Rasul bhw Allah menjadikan Masjid sebagai obat bagi umat yang beriman?
    Ada pertanyaan realistis:
    Seorang dokter apalagi yang telah PNS pasti akan bersuara mainstream yang merasa WAJIB tegak lurus dengan kebijakan pemerintah. Para dokter ini lupa bhw beliau² berpenghasilan amat cukup sdgkan pedagang kecil yang mengais rezeki yg penghasilannya hny cukup utk makan sehari, dirazia petugas saat berjualan terkadang dengan cara menyita dagangannya agar tdk beraktifitas lagi, suruh tetap di rumah. Pertanyaannya, siapa yang kasih makan keluarganya? Mending nara pidana, disuruh tinggal di sel tapi tetap diberi makan, kalau yang ini disuruh tinggal dirumah sambil kelaparan.

    Reply
  10. Liem Hoo Lay says:
    5 years ago

    Kalau mau belajar tafsir yang benar ya lewat ustadz Ngabalin, dijamin akan menjadi muslim yang istiqamah…

    Reply
  11. Liem Hoo Lay says:
    5 years ago

    Para dokter PNS memang harus berfatwa mainstream, khawatir bahkan takut kena sangsi sehingga memberikan anjuran tetep di rumah. Bagi buruh & pedagang kecil akan kelaparan krn ga bisa mengakses rezeki tdk mungkin ada di benarnya. Tapi saya yakin dr. yang beriman pasti hati kecil dan nurani dokternya berkata tdk sesuai yang ada di komentar²nya. Semoga

    Reply
  12. Andry Garcia says:
    5 years ago

    Saya sedikit heran dengan tafsir ini.

    Kenapa ia artikan penggalan hadits ini secara parsial?
    Sampai harus memfatwakan “shalat jumat” diganti dengan shalat zhuhur, kan sudah jelas mutlak ketentuannya bahwa “barangsiapa yang tidak melaksanakan shalat jumat lebih dari 3x maka ia termasuk golongan kafir”, tetapi mengapa kesabaran yang kita ikhtiarkan tidak “menuju ke masjid” sebagai upaya pembersihan diri juga sebagaimana berwudhu, mencuci tangan seiring dengan menjernihkan hati disaat shalat ditegakkan? Bukankah ketakutan seperti itu adalah cara kita membid’ahkan suatu perkara yang Allaah tidak ridhoi?

    Mengapa kita selalu menganggap “segala urusan dunia” dianggap genting sementara shalat berjamaah tidak dianggap genting dikarenakan kerumunan, padahal Allaah berikan kita air untuk sumber kehidupan kita melawan berbagai marabahaya. Termasuk marabahaya dari timbulnya ketakutan yang tidak bersandar kepada Allaah?? Mohon dengan sangat. Refleksikan kembali #dirumahaja ini.

    Reply
  13. Anwar says:
    5 years ago

    Masjid ditutup, mall masih buka, Indomaret buka alfamart buka, bravo buka masiyo ditutup jam 5, ditutup ditutup kabeh , karuan

    Reply
  14. Syamsu pribadi says:
    5 years ago

    Yg komen negatif ini berilmu ato cuma maen logika ? Klo merasa GK berilmu ikut aja ulama, pemerintah n para ahlinya… aman. Aman akherat aman dunia

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks