Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Ibnu Sina, Sang Ilmuan Muslim Pencetus Metode Karantina

Abi Abdul Jabbar Sidik
14 April 2020 | 14:18
rubrik: Khazanah Islam, Tokoh Muslim
Ibnu Sina, Sang Ilmuan Muslim Pencetus Metode Karantina
Share on FacebookShare on Twitter


MADANINEWS.ID, JAKARTA — Pada masa pandemi virus corona ini, World Health Organization (WHO), pakar medis, dan pemerintah di berbagai dunia menggaungkan untuk karantina mandiri di rumah masing-masing alias physical distancing guna mencegah penyebaran virus corona.

Sejatinya ilmuwan dan pakar medis muslim sudah mengenalkan metode karantina jauh sebelum virus corona mewabah di berbagai penjuru dunia saat ini.

Ibnu Sina yang di barat dikenal dengan nama Avicenna merupakan seorang ulama, filusuf, ilmuan dan pakar medis muslim yang berasal dari Persia (Iran). Ia hidup antara 980-1037, juga dikenal sebagai bapak kedokteran modern awal.

Salah satu ide awal yang pernah Ibnu Sina ajarkan adalah motode karantina untuk mencegah penyebaran penyakit. Ia mengajarkan, guna mencegah penyebaran penyakit antar sesama manusia diperlukan karantina atau isolasi orang yang berpenyakit itu selama 40 hari.

Seperti dilansir dari website Siasat, Ibnu Sina menyebut metode karantina 40 hari ini sebagai al-Arba’iniya (empat puluh). Oleh karena itu, asal usul metode yang saat ini digunakan di banyak dunia untuk memerangi pandemi virus corona yang mengharuskan masyarakat dunia untuk melakukan karantina mandiri dengan tinggal di rumah saja, salah satu sumbernya berasal dari pemikiran Ibnu Sina.

Dikenal sebagai pelopor ilmu kedokteran eksperimental, Ibnu Sina juga melakukan penemuan penting. Salah satunya penemuan tentang tuberculosis (TBC).

Maha karya Ibnu Sina yang masih jadi rujukan hingga saat ini adalah Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan) dan The Canon of Medicine.

Dua buku ini menjadi warisan penting bagi dunia kedokteran di Timur maupun Barat. Bahkan buku The Canon of Medicine yang dalam bahasa Arabnya Al-Qanun fi Tibb dianggap sebagai buku kedokteran eksperimental paling penting dalam sejarah.

See also  Bulan Dzulqadah, Makna dan Sejarah Penamaannya

Saking pentingnya, buku itu menjadi kitab suci dunia pengobatan Islam dan Eropa hingga abad ke-17. Buku tersebut dipakai oleh para dosen kedokteran di Barat untuk memperkenalkan prinsip-prinsip dasar sains. Di antara isinya tentang teori dan praktik kedokteran seperti ilmu anatomi, ginekologi, dan pediatri.

Tags: avicennaIBNU SINAilmuan muslimmetode karantina
Previous Post

Puskes Haji Siapkan Penanganan Covid-19 untuk Jemaah Haji

Next Post

Ini 6 Arahan Presiden Bendung Penyebaran Covid-19

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks