MADANINEWS.ID, — Kerajaan Arab Saudi melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional (Weqaya) mulai melakukan studi penelitian tentang coronavirus baru dengan menggunakan teknik pengurutan genetik ‘generasi berikutnya’.
Dilansir dari publikasi Arab News, Kamis (19/3/2020), Waqeya menyebutkan pekerjaan penelitian yang dilakukan di laboratorium ini akan membantu menemukan kasus infeksi COVID-19 dan melacak penyebaran penyakit di dalam Kerajaan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular, cedera, dan ancaman kesehatan lainnya, sambil memantau, mengukur, dan mengevaluasi kesehatan populasi dan risiko bagi Kerajaan.
Hasil dari penelitian ini selanjutnya akan menjadi bahan dalam pengambilan kebijakan dan program, menyediakan solusi kesehatan masyarakat yang inovatif berdasarkan bukti ilmiah, dan bekerja sebagai badan referensi untuk inisiatif kesehatan masyarakat.
Pada hari Rabu (18/3/2020), Kementerian Kesehatan Arab Saudi melaporkan ada 67 kasus baru coronavirus baru (COVID-19). Dengan demikian total kasus warga yang terinfeksi di Kerajaan menjadi 238.
Sebelumnya, penelitian yang Amerika Serikat (AS) danai menunjukkan, selama berada di permukaan, virus corona baru bisa bertahan berhari-hari. Sementara di udara, virus bertahan beberapa jam.
Pakar menemukan, virus yang menyebabkan penyakit Covid-19 memiliki tingkat kelayakan yang serupa di luar tubuh dengan pendahulunya yang menyebabkan sindrom pernafasan akut (SARS).
Itulah mengapa, terdapat faktor-faktor lain seperti penularan lebih luas dari orang tanpa gejala menjadi pandemi besar dibanding wabah SARS pada 2002-2003.
Hasil penelitian baru tersebut terbit di New England Journal of Medicine (NEJM). Penelitinya adalah para pakar dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) serta Universitas California, Los Angeles, dan Princeton.
Jika virus corona menempel pada tembaga, terdeteksi sampai empat jam. Kalau menempel pada plastik, dapat bertahan hingga tiga hari. Dan, bila menempel pada kardus, akan bertahan selama 24 jam.
Tim pakar juga menggunakan nebulizer untuk melakukan simulasi batuk dan bersin. Hasilnya, virus berubah menjadi aerosol yang partikelnya melayang di udara, membuatnya terdeteksi hampir selama tiga jam.
Hasil studi penelitian ini pertama kali diunggah di situs medis pra-cetak pekan lalu sebelum ditinjau pakar sejawat lain. Unggahan ini menarik perhatian, termasuk kritik dari para ilmuwan lain yang mengatakan hal itu melebih-lebihkan. Para kritikus mempertanyakan apakah nebulizer secara akurat bisa dikatakan meniru batuk dan bersin manusia.
