Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Tangkal Radikalisme, UIN Sunan Ampel Hadirkan Mata Kuliah Baru

Abi Abdul Jabbar Sidik
27 September 2018 | 11:07
rubrik: Nusantara
Cegah Paham Radikal, Fakultas Tarbiyah Diminta Buat Laboratorium PAI

Radikalisme. (foto:istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, SURABAYA – Perguruan Tinggi kini menjadi sasaran pengembangbiakan paham-paham dan ideologi radikal. Jika dibiarkan, hal itu akan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk menangkal berkembangnya paham radikal ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur akan memasukan satu mata kuliah bertema Gerakan Islam Nusantara.  Pihak kampus menargetkan mata kuliah itu menjadi cara untuk menangkal bibit baru paham radikal di lingkungan kampus.

Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya Abd Halim mengatakan Gerakan Islam Nusantara merupakan mata kuliah baru. Dulu, pelajarannya kurang lebih sama dengan mata kuliah Sejarah Dakwah

“Substansinya adalah Islam moderat,” kata Halim di UIN Sunan Ampel, Rabu, 26 September 2018.

Mata kuliah baru itu menggunakan kajian kontekstual untuk mengenalkan tokoh-tokoh Islam pada mahasiswa. Tokoh-tokoh tersebut memiliki sejarah menyebarkan agama Islam Rahmatan Lil Alamin di Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Karena sudah banyak para kiai-kiai terdahulu yang menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam moderat. Itupun jauh sebelum Indonesia merdeka,” terangnya.

Metode belajarnya yaitu dengan membagi mahasiswa dalam beberapa kelompok. Mereka akan membedah pemikiran para tokoh Islam.

Menurut Halim, mata kuliah tersebut dihadirkan setelah pihak kampus melakukan riset. ” Di situlah relevansinya, di Festival Hari Santri Nasional nanti kami juga akan launching Ensiklopedi dan Ulama Nusantara. Itu hasil riset kami. Diharapkan mata kuliah seperti ini bisa diterima di semua program studi,” harapnya.

Hakim mengatakan radikalisme merupakan sebuah paham yang berbasis pada ideologi. Ideologi muncul berbarengan dengan keyakinan.

Radikalisme di negara yang sedang berkonflik, Suriah, dan Indonesia itu tidak berdiri sendiri. Paham itu berkaitan dengan dinamika politik dunia.

See also  Ruangguru Luncurkan Ruangpeduli, Guna Bantu Hadapi Ketimpangan Pendidikan

Pemikiran radikal mudah tersebar dengan memanfaatkan media sosial. Sayangnya, ujar Hakim, Indonesia tampak belum siap merekonstruksi ideologi Islam yang beririsan dengan ideologi negara.

“Kita baru tergagap-gagap, ternyata banyak sekali kelompok seperti itu (bibit radikal), dengan berbagai ragam. Ada kelompok ini, ada kelompok itu, dan kita pun tidak siap,” tegasnya.

Mengapa?, Karena Indonesia sangat luas, baik dari kepulauan, maupun multi etnis. Tentunya untuk mengatasi persoalan-persoalan  tersebut tidaklah mudah. Menurutnya, Harus ada konsep terstruktur dan sistematis agar bisa masuk kedalam instrumen kelembagaan.

“Salah satunya melalui pendidikan. Dan ini tidaklah instan. Kontra ideologi perlu kerja keras. Dan yang paling efektif yakni  melalui pendidikan disemua level. Upaya itu untuk mengurangi dampak derasnya paham radikal, terutama dimulai dari bibit yang ada dikampus,” tandasnya.

Tags: RadikalismeUIN Sunan Ampel
Previous Post

Pemuda Muhammadiyah: Waspadai Potensi Kampanye dengan Fasilitas Pemerintah

Next Post

Din Syamsuddin: Ada Campur Tangan Pemerintah Atas Kepulangan HRS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks