Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Tragedi Karbala, Kisah Pilu Gugurnya Husein Cucu Rasulullah pada 10 Muharram

Abi Abdul Jabbar Sidik
25 June 2026 | 13:00
rubrik: Islam Digest, Khazanah Islam
Tragedi Karbala, Kisah Pilu Gugurnya Husein Cucu Rasulullah pada 10 Muharram

Ilustrasi Tragedi Karbala. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, Jakarta – Bulan Muharram tidak hanya dikenal sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, tetapi juga menyimpan salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam. Tepat pada 10 Muharram 61 Hijriah atau Hari Asyura, Sayyidina Husein bin Ali RA, cucu Rasulullah SAW, gugur di Padang Karbala setelah menghadapi pasukan yang jauh lebih besar.

Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala itu menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah politik umat Islam. Tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Rasulullah SAW, tragedi tersebut juga menjadi pelajaran tentang besarnya harga yang harus dibayar akibat konflik politik dan perebutan kekuasaan pada masa awal pemerintahan Islam.

Berawal dari Konflik Politik Pasca Wafatnya Muawiyah

Sejarah mencatat, Tragedi Karbala berakar dari dinamika politik setelah wafatnya Muawiyah bin Abu Sufyan. Putranya, Yazid bin Muawiyah, diangkat sebagai khalifah. Namun, tidak semua tokoh umat Islam memberikan baiat, termasuk Sayyidina Husein bin Ali RA.

Dalam perjalanan menuju Kufah untuk memenuhi undangan sebagian masyarakat yang menginginkan kepemimpinannya, rombongan Husein justru dihadang pasukan yang berada di bawah komando gubernur Kufah, Ubaidullah bin Ziyad. Mereka kemudian berhenti di Padang Karbala hingga akhirnya terjadi pengepungan yang berujung pada pertempuran pada 10 Muharram 61 Hijriah.

Pidato Menggetarkan Hati Sayyidina Husein

Sebelum peperangan dimulai, Husein bin Ali menyampaikan pidato yang kemudian direkam dalam Tarikh ath-Thabaridan Al-Bidayah wan Nihayah. Beliau mengingatkan lawan-lawannya tentang hubungan nasabnya dengan Rasulullah SAW.

Beliau berkata:

قال: أما بعد، فانسبوني فانظروا من أنا، ثم ارجعوا إلى أنفسكم وعاتبوها، فانظروا، هل يحل لكم قتلي وانتهاك حرمتي؟ ألست ابن بنت نبيكم ص وابن وصيه وابن عمه، وأول المؤمنين بالله والمصدق لرسوله بما جاء به من عند ربه! او ليس حمزة سيد الشهداء عم أبي! أوليس جعفر الشهيد الطيار ذو الجناحين عمى! [او لم يبلغكم قول مستفيض فيكم: إن رسول الله ص قال لي ولأخي: هذان سيدا شباب أهل الجنة!] فإن صدقتموني بما أقول- وهو الحق- فو الله ما تعمدت كذبا مذ علمت أن الله يمقت عليه أهله، ويضر به من اختلقه، وإن كذبتموني فإن فيكم من إن سألتموه عن ذلك أخبركم، سلوا جابر بن عبد الله الأنصاري، أو أبا سعيد الخدري، أو سهل بن سعد الساعدي، أو زيد بن أرقم، أو أنس بن مالك، يخبروكم أنهم سمعوا هذه المقاله من رسول الله ص لي ولأخي. أفما في هذا حاجز لكم عن سفك دمي!

Artinya:

“Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku.

Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu?

Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah pamanku? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu pamanku?

Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku: ‘Keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga’?

Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku.

Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Namun, seruan tersebut tidak menghentikan pengepungan yang telah berlangsung.

See also  Jenis Pakaian yang Disukai Rasulullah

Gugur di Padang Karbala

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengisahkan bahwa pertempuran berlangsung sangat berat. Sayyidina Husein mengalami luka akibat sabetan pedang hingga kepalanya berdarah. Beliau sempat merobek kain jubahnya untuk membalut luka tersebut.

Ketika berusaha mendekati Sungai Efrat karena kehausan, beliau kembali diserang dari berbagai arah sehingga tidak diberi kesempatan untuk meminum air.

Ibnu Katsir menulis:

“Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 8/204).

Riwayat lain menyebutkan bahwa kepala Husein kemudian dibawa kepada Ubaidullah bin Ziyad. Saat ia memainkan tongkat pada wajah Husein, sahabat Anas bin Malik RA berkata:

“Demi Allah! sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.”

Puluhan Pengikut Husein Turut Gugur

Ibnu Katsir mencatat sekitar 72 orang dari pihak Husein gugur dalam tragedi tersebut. Sementara Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa menyebut pasukan yang mengepung Husein berjumlah sekitar 4.000 orang di bawah komando Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash.

Dalam kitab yang sama, As-Suyuthi juga meriwayatkan sejumlah peristiwa luar biasa yang dinisbatkan terjadi setelah wafatnya Husein, di antaranya langit tampak memerah dan terjadinya gerhana matahari. Riwayat-riwayat seperti ini menjadi bagian dari literatur sejarah Islam dan dipahami secara beragam oleh para ulama.

Mimpi Ummu Salamah tentang Wafatnya Husein

Imam As-Suyuthi juga mengutip riwayat Imam At-Tirmidzi mengenai kisah Ummul Mukminin Ummu Salamah RA.

Salma bertanya:

“Mengapa engkau menangis?”

Ummu Salamah menjawab:

“Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya, ‘Mengapa engkau wahai Rasul?’

Rasulullah menjawab:

See also  Mengapa Tahun Baru Islam Dimulai 1 Muharram? Ternyata Ini Sejarahnya

‘Saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein.'”

Pelajaran dari Tragedi Karbala

Tragedi Karbala menjadi salah satu peristiwa yang selalu dikenang dalam sejarah Islam, terutama setiap datangnya Hari Asyura. Peristiwa ini bukan sekadar catatan tentang peperangan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga persatuan umat, menjauhi pertumpahan darah, serta memuliakan keluarga Rasulullah SAW.

Kisah gugurnya Sayyidina Husein RA juga menjadi bukti bahwa konflik politik dapat membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan umat. Karena itu, para ulama menjadikan peristiwa Karbala sebagai bahan renungan agar umat Islam senantiasa mengedepankan keadilan, hikmah, dan persaudaraan dalam menghadapi berbagai perbedaan.

Tags: 10 muharramAsyuracucu rasulullahhusain bin aliMuharrampembantaian husaintragedi karbala
Previous Post

Empat Bulan Haram dalam Islam, Kapan Saja dan Apa Keistimewaannya?

Next Post

Rahasia Keutamaan Wudhu: Allah Hapus Dosa Hamba-Nya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks