MADANINEWS.ID, JAKARTA – Bayangkan berdakwah bukan selama satu tahun, sepuluh tahun, atau bahkan satu generasi. Bayangkan mengajak manusia kepada kebenaran selama berabad-abad, namun hanya sedikit yang mau mendengar.
Itulah kisah luar biasa Nabi Nuh AS, seorang rasul yang dikenal sebagai simbol kesabaran dalam sejarah kenabian. Di tengah masyarakat yang tenggelam dalam penyembahan berhala, beliau berdiri seorang diri menyeru manusia agar kembali menyembah Allah SWT.
Perjalanan dakwah Nabi Nuh AS bukan hanya kisah tentang azab banjir besar dan kapal raksasa. Lebih dari itu, kisah beliau adalah pelajaran tentang keteguhan hati seorang hamba yang tidak pernah berhenti mengajak kepada kebenaran meski ditolak selama ratusan tahun.
Rasul Pertama yang Diutus kepada Manusia
Dalam kitab Qashashul Anbiya yang disusun Ibnu Katsir dan diterjemahkan Umar Mujtahid, disebutkan bahwa Nabi Nuh AS merupakan rasul pertama yang diutus Allah SWT kepada penduduk bumi setelah manusia terjerumus dalam kesyirikan.
Sebelumnya, generasi manusia setelah Nabi Adam AS hidup dalam tauhid. Menurut riwayat Ibnu Abbas yang juga disebutkan Imam Bukhari, Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS dipisahkan oleh sepuluh generasi, dan seluruh generasi tersebut berada di atas ajaran Islam.
Namun seiring berjalannya waktu, manusia mulai menyimpang. Setan membisikkan berbagai tipu daya hingga penyembahan terhadap berhala dan patung-patung menjadi kebiasaan yang meluas.
Dalam kondisi itulah Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS untuk mengembalikan manusia kepada jalan tauhid.
Dakwah yang Tak Pernah Berhenti
Sejak awal, misi Nabi Nuh AS sangat jelas: mengajak manusia meninggalkan berhala dan hanya menyembah Allah SWT.
Beliau menyeru kaumnya dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Allah SWT mengabadikan sebagian seruan Nabi Nuh AS dalam Al-Qur’an:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat). (Al A’raf: 59)
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ
“agar kamu tidak menyembah (sesuatu) kecuali Allah. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang (siksanya) sangat pedih.” (Hud: 26)
Sementara dalam Surah Al-Mu’minun disebutkan:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Apakah kamu tidak bertakwa?” (Al-Mu’minun: 23)
Tak hanya itu, Allah SWT juga mengabadikan dakwah Nabi Nuh AS dalam satu surah khusus, yakni Surah Nuh.
يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ
“Wahai kaumku! Sesungguhnya, aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (QS Nuh: 2-3)
Hingga firman-Nya:
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا
“Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian).” (QS Nuh: 14)
Berdakwah Selama 950 Tahun
Yang membuat kisah Nabi Nuh AS begitu istimewa adalah lamanya perjuangan dakwah yang beliau jalani.
Allah SWT secara tegas menyebutkan hal tersebut dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.” (QS Al-Ankabut: 14)
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun.
Bayangkan berapa banyak generasi yang datang dan pergi selama rentang waktu tersebut. Namun hampir seluruh generasi itu tetap menolak dakwah beliau.
Mereka tidak hanya menolak, tetapi juga mewariskan penolakan itu kepada anak cucu mereka. Setiap generasi berpesan kepada generasi berikutnya agar tidak mengikuti Nabi Nuh AS dan terus mempertahankan penyembahan berhala.
Ketika Kesabaran Bertemu dengan Ketetapan Allah
Meski menghadapi penolakan yang terus-menerus, Nabi Nuh AS tidak pernah berhenti berdakwah. Beliau mengajak kaumnya siang dan malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Namun ketika Allah SWT menetapkan bahwa kaumnya tidak lagi akan beriman, Nabi Nuh AS memanjatkan doa kepada-Nya.
Setelah itu datanglah perintah yang mengubah sejarah manusia.
Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS membangun sebuah kapal besar sebagai sarana keselamatan bagi orang-orang beriman.
Riwayat para ulama menyebut ukuran kapal tersebut berbeda-beda. Qatadah menyebut panjangnya 300 hasta dengan lebar 50 hasta. Hasan Al-Bashri menyebut panjangnya 600 hasta dan lebar 300 hasta. Sementara Ibnu Abbas meriwayatkan panjangnya mencapai 1.200 hasta dengan lebar 600 hasta. Ada pula pendapat yang menyebut panjang kapal mencapai 2.000 hasta.
Meski berbeda dalam ukuran, seluruh riwayat menyebut tinggi kapal tersebut mencapai 30 hasta.
Kapal itu terdiri atas tiga tingkat. Bagian bawah diperuntukkan bagi hewan-hewan, bagian tengah untuk manusia, sedangkan bagian atas untuk burung.
Banjir Besar yang Mengubah Sejarah
Ketika perintah Allah SWT tiba, air memancar dari berbagai penjuru bumi dan hujan turun dengan sangat deras.
Banjir besar kemudian menenggelamkan kaum yang selama berabad-abad mendustakan Nabi Nuh AS.
Hanya orang-orang beriman yang mengikuti dakwah beliau yang diselamatkan melalui kapal tersebut.
Peristiwa itu juga menjadi pelajaran yang sangat menyentuh. Sebab, tidak semua anggota keluarga Nabi Nuh AS ikut selamat. Sebagian keluarganya, termasuk mereka yang menolak beriman, tetap menjadi bagian dari kaum yang ditimpa azab.
Pelajaran dari Nabi Nuh AS
Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut atau cepatnya hasil yang terlihat.
Selama 950 tahun beliau terus menyampaikan kebenaran tanpa lelah, tanpa menyerah, dan tanpa kehilangan harapan kepada Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern yang serba instan, kisah Nabi Nuh AS menjadi pengingat bahwa kesabaran adalah salah satu sifat paling mulia yang dicintai Allah SWT.
Beliau adalah contoh bahwa seorang mukmin harus tetap istiqamah dalam kebaikan, sekalipun hasilnya tidak langsung tampak di hadapan mata.
Karena pada akhirnya, tugas seorang hamba adalah menyampaikan dan berusaha. Adapun hasilnya, sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT.
