MADANINEWS.ID, Jakarta – Rasa kesepian bisa melanda siapa saja dan dimana saja. Gejala emosional ini biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakter seseorang yang introvert dan mengisolasi dari dunia luar hingga yang paling umum yakni patah hati.
Kesepian dan kematian kerap dikaitkan dengan bunuh diri. Akan tetapi, sebuah studi mengungkap bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko kematian pada pasien dengan penyakit jantung.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association menyebut bahwa kondisi kesepian dan patah hati ternyata bukan hanya mempengaruhi kondisi psikis dan perubahan emosiaonal seseorang, namun juga bisa berdampak pada gagal jantung.
Resiko gagal jantung sangat tinggi terjadi pada orang yang sering mengalami kesepian atau terisolasi dari kehidupan sosial dibanding mereka yang hidup berdampingan. Secara tidak langsung, penelitian ini menghimbau agar semua orang menghindari rasa sepi untuk mendapatkan hidup yang lebih berkualitas dan terhindar dari risiko gagal jantung.
Para peneliti telah melakukan survei dan wawancara pada sekitar 1.681 orang yang didiagnosis mengalami gagal jantung. Hasilnya, 6 persen di antaranya ternyata adalah mereka terisolasi dari kehidupan sosial dan sulit menjalin hubungan dengan orang-orang baru.
Tingkat kematian pada kelompok orang kesepian juga cenderung lebih tinggi dibanding orang yang memiliki kehidupan sosial normal, yaitu sekitar 3,7 kali, 1,7 kali lebih tinggi untuk di rawat di rumah sakit, dan 1,6 kali lebih tinggi untuk dilarikan ke ruang gawat darurat.
“Penelitian kami menemukan, perasaan kesepian atau terisolasi dapat berkontribusi terhadap prognosis buruk pada gagal jantung,” ungkap salah seorang peneliti senior, Lila Rutten, Ph.D, kepada American Heart Association.
Penelitian tentang dampak kesepian pada kondisi kesehatan ini terbilang bukan yang pertama kali. Menurut American Association of Retired Person (AARP) Loneliness Study, sekira 42,6 juta orang dewasa di atas usia 45 diklaim menderita kesepian kronis. Mereka juga menyatakan dampak dari kondisi tersebut akan jauh lebih parah di tahun-tahun mendatan
Oleh karena itu, melakukan interaksi sosial secara luas dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia dan penting untuk menciptakan kesejahteraan serta kelangsungan hidup.
Studi ini juga menghasilkan sejumlah kabar baik. Menurut mereka, dengan melakukan skrining dini, permasalahan tersebut dapat segera ditindaklanjuti sehingga para pasien tidak akan sampai mengalami berbagai efek kesehatan yang berbahaya, terutama gagal jantung.
“Studi kami menunjukkan bahwa penting untuk menanyakan tentang perasaan para pasien dengan menggunakan alat skrining formal. Selain itu, ada pula langkah-langkah ampuh untuk mengurangi kondisi tersebut seperti bergabung dengan komunitas, atau kelompok pendukung pasien gagal jantung, serta strategi pribadi lainnya,” tukas Gregg C. Fonarow, co-chief of Cardiology.
