MADANINEWS.ID, JAKARTA — Salat adalah aktivitas beribadah yang diwajibkan bagi umat muslim selama 5 waktu setiap harinya. Terlepas dari nilai spiritual dan kedekatan dengan Sang Pencipta, ternyata manfaat shalat juga baik untuk kesehatan. Kewajiban fundamental bagi umat Muslim ini juga tidaklah memberatkan karena apabila keterbatasan fisik menyebabkan tidak bisa menunaikan shalat sambil berdiri, maka shalat sembari duduk atau berbaring pun diperbolehkan.
Seperti dirangkum secara singkat dari International Journal of Health Sciences & Research ada beberapa manfaat kesehatan yang diperoleh dari gerakan-gerakan saat melaksanakan ibadah Salat, Seperti:
- Memperlancar peredaran darah. Dalam salat ada gerakan takbiratul ihram, di mana kita berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini memperlancar aliran darah dan juga getah bening, serta memperkuat otot lengan. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang dan membuat aliran darah kaya oksigen menjadi lancar dan otot jadi tidak kaku.
- Menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang. Lewat gerakan rukuk, di mana kita seperti berlutut tetapi kepala lurus dengan tulang belakang, kita mengurangi risiko terkena cedera atau sakit di punggung dan pinggang berkurang. Lewat rukuk, kemih akan terlatih mencegah gangguan prostat.
- Memperlancar pencernaan. Saat i’tidal atau bangun dari rukuk, gerakan ini melibatkan perut dan organ pencernaan lainnya, maka organ pencernaan ini mengalami pemijatan dan pelonggaran sehingga kerjanya jadi lebih lancar.
- Aliran darah ke otak lebih baik. Saat bersujud, alias gerakan yang seperti menungging tapi kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi menempel di lantai secara bersamaan, aliran darah menuju otak meningkat, dan aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Lalu karena posisi jantung di atas otak, darah yang kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak dan mempengaruhi daya pikir seseorang. Efek ini juga terjadi dalam gerakan ibadah agama Hindu, Vandanam, yaitu berbakti kepada Tuhan dengan jalan melakukan sujud dan kebaktian. Karena ada gerakan sujud, maka aliran darah ke otak juga lebih baik.
- Menghilangkan nyeri. Saat duduk di antara dua sujud, tubuh kita akan bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius, yang membuat tubuh kita terhindar dari nyeri pangkal paha. Selain itu, posisi duduk ini membuat kita terhindar dari masalah prostat.
- Merelaksasi otot sekitar leher dan kepala. Saat melakukan salam di akhir salat, otot di sekitar leher dan kepala akan lebih rileks dan menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini bisa mencegah sakit kepala dan menjaga kulit tetap kencang.
- Kecerdasan meningkat. Menurut beberapa penelitian, setelah salat kecerdasan kita bisa meningkat. Ini disebabkan gerakan sujud yang memudahkan pasokan oksigen mengalir secara optimal. Menurut penelitian yang dilakukan beberapa peneliti di Harvard University, Amerika Serikat, ini karena posisi jantung yang berada di atas kepala, sehingga darah mampu mengalir dengan sangat baik ke otak.
Studi membuktikan orang rajin ibadah lebih sehat
Secara umum, hampir setiap agama memiliki gerakan ritual ibadah yang tidak jauh berbeda dengan yang sudah dijelaskan di atas. Akan tetapi, manfaat ibadah ternyata lebih dari itu. Khususnya pada kesehatan mental dan psikologi, seperti yang dipaparkan Harold Koenig, MD, profesor obat dan psikiater dari Duke seperti dipaparkan di WebMD.com.
“Mereka terlihat tidak atau sangat jarang merokok dan minum-minum,,” kata Koenig.
Faktanya orang-orang yang rajin beribadah jarang sakit, berdasarkan hasil studi yang berbeda di universitas Duke, Dartmouth, dan Yale. Berikut ini beberapa hasil penelitiannya:
- Orang yang jarang beribadah, ketika sakit dan dirawat di rumah sakit akan memakan waktu rata-rata tiga kali lebih lama dibandingkan orang yang rajin beribadah.
- Jantung seorang pasien yang jarang atau tidak pernah beribadah, 14 kali lebih terancam mati saat operasi.
- Orang tua yang jarang atau tidak pernah beribadah 2 kali lebih berisiko terkena stroke, dibandingkan yang rajin.
- Di Israel, orang-orang Yahudi yang religius memiliki tingkat kematian lebih rendah 40% dari penyakit kardiovaskular dan kanker.
Koenig juga mengatakan, orang-orang yang lebih religius lebih jarang mengalami depresi. “Dan ketika mereka merasa depresi, mereka bisa sembuh dengan cepat dari depresi tersebut. Itu bisa memiliki konsekuensi bagi kesehatan fisik dan kualitas hidup mereka,” paparnya.
Mungkin Anda yang belum merasakan dampaknya, bisa langsung memulai ibadah Anda sesuai kepercayaan Anda masing-masing. Tidak cuma membuat Anda lebih tenang, ternyata Anda juga lebih sehat secara lahir dan batin.
