Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Nuzulul Quran; Kisah Ketika Turunnya Al-Quran ke Muka Bumi

Abi Abdul Jabbar Sidik
9 March 2026 | 10:00
rubrik: Indeks, Islam Digest, Napak Tilas
Nuzulul Quran; Kisah Ketika Turunnya Al-Quran ke Muka Bumi

Al-Quran. (foto:dok/ist)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Inilah kisah detik-detik turunnya Al-Quran dari Langit menuju Bumi manusia. yang kita peringati sebagai malam Nuzulul Quran. Malam Nuzulul Quran diperingati pada malam 17 Ramadhan. Ketika ayat pertama turun, apa yang dirasakan Rasul? Siapa saja yang turut membantunya?

Pada suatu malam yang tenang, angin mengalir lembut dan langit bermandikan cahaya, Nabi masih berada di dalam gua itu. Ia sudah beberapa hari tinggal di situ untuk “tahannuts“, “khalwah“,. berkontempelasi, sebuah ritual permenungan yang intens. Al-Ghazali menyebutnya: momen menyerap aspirasi dari langit.

Manakala kemudian keluar dari gua itu tiba-tiba malaikat Jibril menampakkan diri di hadapannya, dan mengatakan, “Selamat atas anda, Muhammad. Aku Jibril pembawa “Suara Tuhan”. Anda adalah Rasulullah, utusan Allah kepada umat ini”.

Ia kemudian merengkuh tubuh Nabi sambil mengatakan, “Bacalah !”

Nabi Muhammad Saw. Menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

“Bacalah !” katanya lagi.

Muhammad mengulangi jawaban yang sama. Jibril lalu menarik dan mendekapnya sampai menyulitkan beliau bernapas. Setelah dilepaskan, Jibril mengulangi lagi perintahnya dan dijawab dengan jawaban yang sama. Pada yang ke empat kalinya Muhammad saw kemudian mengucapkan kalimat suci ini:

إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq, 1-5).

Begitu selesai Muhammad mengikuti Jibril membaca 5 ayat Iqra’ (al-Qalam) Jibril menghilang entah ke mana. Muhammad tetap merasa ketakutan. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya.

See also  Tiga Provinsi Raih Penghargaan Terbaik Pendataan Koperasi dari Kemenkop

Beliau bergegas pulang menemui Khadijah, istrinya, dengan hati yang diliputi rasa galau, cemas dan takut. Begitu tiba di rumah, ia masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Katanya, “Selimuti aku, selimuti aku, sayang!”.

Khadijah segera menyelimuti seluruh tubuhnya rapat-rapat. Setelah rasa takutnya mereda, beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya dan mengatakan, “Aku takut diriku, sayang. Aku khawatir sekali”.

Khadijah mengatakan dengan lembut, membesarkan hatinya :

كَلّا. أَبْشِرْ فَوَ اللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ اَبَداً, وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ, وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran.”

Khadijah kemudian menghubungi putra pamannya, Waraqah bin Naufal. Ia adalah pengikut sekaligus seorang pendeta Nasrani dan penafsir Bible: Kitab Taurat dan Injil. Ia memahaminya dalam bahasa Ibrani yang fasih.

Kepada sepupunya ini, Khadijah mengatakan, “Tolong dengarkan apa yang disampaikan sepupumu.” Lalu Nabi Saw menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya.

Waraqah sangat mengerti soal itu. Tanda-tanda kenabian telah dipahami dengan baik dari sejarah para Nabi sebelum Muhammad. Ia mengatakan, “Muhammad, itulah Namus yang pernah turun kepada Nabi Musa as. Kau akan menjadi utusan Tuhan. Kau akan didustakan, disakiti, diusir dan dibunuh. Kalau saja aku masih muda dan kuat, aku pasti akan membelamu, manakala kaummu mengusirmu.”

Rasulullah saw menanyakan, “Apakah mereka akan mengusirku ?”

“Ya, dan tak ada seorangpun yang sanggup menanggung beban berat seperti yang kamu tanggung,” jawab Waraqah.

See also  Bulan Dzulqadah, Bulan Diharamkannya Perang dan Aniaya

Nabi tertegun. Hatinya masyghul (gundah). Ia tak dapat membayangkan peristiwa yang akan terjadi terhadap dirinya kelak, bagaimana dia akan bisa hidup di luar daerahnya dan dalam keadaan sebagai orang yang dikejar-kejar, bagai penjahat besar yang menjadi buronan masyarakatnya sendiri.

Peristiwa pada malam itu lah yang kelak kita peringati dengan istilah Nuzulul Quran. Saya pikir begitulah kelahiran seorang pembaru sosial yang besar.

Penulis : KH. Husein Muhammad

Tags: Al-Qurannuzulul quranRasulullah SAWturunnya al-quran
Previous Post

Bau Mulut Saat Puasa? Ini Cara Mengatasinya

Next Post

Lailatul Qadr, Malam Penuh Ampunan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks