MADANINEWS.ID, Jakarta – Suluh Nuswantara Bakti dan Aliansi Kebangsaan menggelar Webinar bedah buku berjudul “Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif”, karya Yudi Latief PhD, (13/11/2020). Yudi Latief adalah seorang cendikiawan dan pemikir kepancasilaan.
Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka ini, memiliki tebal 452 halaman dan merupakan buku keduanya yang terbit tahun ini. Sebelumnya ia meluncurkan buku “Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan”, pada Juli lalu.
Bedah buku ini menghadirkan cendikiawan muslim Prof. Azyumarzi Azra, MA, pakar pendidikan nasional Ki Dharmaningtyas, aktivis pendidikan Dhitta Putri Saravati, serta Yudi Latief, PhD. Sementara itu sebagai keynote speech adalah Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti dan Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, dan moderator adalah Dr. Bambang Pharma.
Buku Menjadi Landasan Kritik Terhadap Kebijakan Sistem Pendidikan Bangsa
Pada pengantarnya, Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti dan Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo menyatakan jika bedah buku ini sekaligus merupakan refleksi perenungan terhadap nilai-nilai kepahlawanan para pejuang bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari penjajahan. Termasuk juga perjuangan pembebasan dari kebodohan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional.
Berkaitan dengan buku terbaru Yudi Latief, Pontjo sependapat bila pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Karenanya, pendidikan nasional sudah seharusnya tetap berakar kuat pada bangsanya sendiri. Yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia. Pendidikan menjadi wahana penyemaian nilai-nilai dan pembangunan budaya, pendidikan nasional sudah seharusnya tetap berakar kuat pada bangsanya sendiri, yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia.
Menurutnya kembali, pendidikan yang tidak didasari oleh budaya bangsa akan menghasilkan generasi yang tercabut dari kebudayaan bangsanya sendiri. Pendidikan yang tidak menyatu dengan kebudayaan akan cenderung asing dan akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Dan hanya dengan pendidikan yang berakar pada budaya sendiri, maka bangsa ini akan selamat menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.
“Keterkaitan pendidikan dengan kebudayaan juga semakin menemukan relevansinya, karena budaya merupakan faktor penentu keberhasilan maju atau mundurnya peradaban bangsa. Signifikansi budaya terhadap kemajuan sebuah bangsa dikemukakan dalam bukunya ini dengan sangat komprehensif. Dari perspektif budaya sendiri, Indonesia adalah multikultur. Karena itu, pendidikan nasional yang harus dikembangkan adalah pendidikan yang berwawasan multikulturisme”, katanya.
Buku Pontjo Sutowo, buku ini sangat menarik untuk dikupas karena memunculkan beragam interpretasi dari berbagai kalangan sesuai dengan keinginannya masing-masing. Buku ini bahkan dapat menjadi landasan kritik terhadap kebijakan dalam sistem pendidikan bangsa hari ini. Buku ini juga dapat menjadi basis landasan bagi pendidikan merdeka yang sedang dikembangkan saat ini.
Mengacu Pada Garis Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Yudi Latief dalam pemaparannya menyampaikan jika pendidikan adalah benih harapan. Sementara yang dibutuhkan dalam proses pendidikan, adalah menciptakan metode pengajaran guna mereproduksi manusia-manusia otonom dan kreatif. Ia juga mengingatkan untuk tidak menanti apapun dari masa depan, karena pendidikan itu harus disiapkan sendiri.
Mengacu pendapat salah satu tokoh pendidikan nasional Daoed Joesoef (2001), ia melanjutkan jika “sistem pendidikan nasional” dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana perubahan yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi “mangsa” dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka di kemudian hari. Dan guna memperkuat isi bukunya, ia memberikan susunan argumentasi yang ‘kokoh’ tentang dasar kebudayaan bangsa.
Menurut Yudi Latief kembali, buku ini berada pada garis pemikiran Ki Hajar Dewantara, sehingga setiap sub bab judul, ia terapkan mengenai pemikiran tersebut.
“Kita harus berangkat dari apa yang kita tidak punya, itulah kenapa saya menulis di garis pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dimulainya dari pemikiran Ki Hajar Dewantara baru kemudian menambah dari pemikiran-pemikiran lain,” katanya.
Dalam filosofinya, KHD menyampaikan kebudayaan harus terus bergerak, tidak boleh statis, ibarat planet-planet dalam tata surya. Jika ia berhenti bergerak, akan menimbulkan kehancuran planet dan tata surya itu sendiri. Selanjutnya walaupun berbeda-beda semua planet berpusat pada satu utama yang sama, yaitu matahari.*
