Home Dunia Islam Musailimah, Nabi Palsu Zaman Rasulullah Saw. dan Habib, Sang Pembawa Pesan

Musailimah, Nabi Palsu Zaman Rasulullah Saw. dan Habib, Sang Pembawa Pesan

Ibadah –Rasulullah menugaskan Habib bin Zaid untuk membawa surat yang berisikan pesan khusus untuk Musailimah. Habib langsung menempuh perjalanan menuju dataran tinggi Najd, wilayah Bani Hanilab. Ketika tiba di sana, Musailimah terkejut mengetahui ada utusan Muhammad yang berani menemuinya.

Ketika berjalan hendak menyampaikan surat Rasulullah, Habib langsung ditangkap. Dia dirantai dan dibawa ke hadapan petinggi Bani Hanilab yang dipimpin Musailimah. Habib berdiri di tengah pertemuan yang penuh sesak.

Musailimah berpaling kepadanya dan bertanya, “Apa kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan?” “Ya, saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan,” kata Habib. Musailimah tampak sangat marah.

Kemudian bertanya dengan suara lantang, “Apakah Anda bersaksi bahwa saya adalah utusan Tuhan?” Habib menjawab, “Telingaku sudah tertutup untuk mendengar pernyataan Anda.

Mendengar jawaban itu, Musailimah seketika itu juga murka. Dia memerintahkan algojo menyiksa Habib dengan kejam. Setelah siksaan pertama, Musailimah kembali bertanya apakah Habib mengakui kenabian pemimpin Bani Hanilab. Lagi-lagi Habib menjawab hanya mengakui Muhammad sebagai utus an Allah.

Siksaan terus berlanjut. Ketika sakra tulmaut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mem pertahankan syahadatnya, sehingga dia syahid sebagai Muslim. Dia tetap mempertahankan keislamannya hingga tetes darah terakhir, hingga ujung kehidupannya.

Sungguh berita kematian Habib yang gugur karena mempertahankan Islam menjadi tamparan bagi Musailimah. Berita itu pun tersebar luas hingga sampai ke telinga Ummu Ammarah.

Sang ibu tak kuasa menahan tetes air mata yang sedih mengetahui putra kesayangannya tewas karena dibunuh dengan keji oleh Musailimah.

Dalam kesedihan itu, Ummu Ammarah sempat bersyukur karena Habib mati syahid mempertahankan ke imanan nya. Dalam tekanan yang paling menya kitkan, Habib tetap tak mau melepas kan keimanannya. Syahadat tetap me lekat di hatinya. Tauhid tetap tertanam dalam pemikirannya.

Tak lama kemudian Rasulullah tutup usia. Kepemimpinan beralih kepada khalifah Abu Bakar Shiddiq yang dikenal sebagai sosok yang memerangi nabi palsu Musailimah. Sang khalifah mengerahkan pasukan, termasuk di dalamnya Ummu Ammarah dan anaknya Abdullah bin Zaid untuk memerangi Musailimah.

Dalam Pertempuran Yamamah, Ummu Ammarah terlihat memotong barisan pejuang. Dia berteriak lantang, “Di manakah musuh Allah? Tunjukkan pada saya musuh Allah.” Dia kemudian sampai ke Musailamah yang sudah tewas terbunuh. Dia menatap tubuh penipu yang sia-sia itu. Ancaman serius bagi umat Islam ketika itu telah hilang.

Habib, Sang Pembawa Pesan Rasulullah ke Musailimah

Setelah berislam, Habib, anak Zaid bin Asim dari Ummu Ammarah, belum mengikuti Perang Badar, karena masih terlalu muda. Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam Pertempuran Uhud karena dianggap belum berkompeten memegang senjata.

Meski demikian, Habib selalu mengamati berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam. Harta dan takhta selalu didermakan untuk kepentingan Islam. Bahkan nyawa dikorbankan demi tegaknya risalah Ilahiyah yang meng arahkan manusia kepada kebenaran.

Tantangan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dalam berislam. Habib menilai, berjuang demi Islam memang harus total, tidak setengah hati. Bukan hanya harta, tapi nyawa pun harus dikorbankan demi tegaknya Islam.

Pengkhianatan Musailimah Pada tahun kesembilan Hijriyah banyak suku di Semenanjung Arab menemui Rasulullah. Banyak dari mereka memeluk Islam karena kagum dengan ajaran tersebut. Salah satu yang mengagumi Islam adalah Musailimah yang dikenal sebagai utusan Bani Hanilab.

Setelah bertemu Rasulullah dia kembali ke kelompoknya. Musailimah ke mudian mengaku sebagai nabi. Dia ber diri di hadapan orang-orang dan menyatakan dirinya sebagai utusan Tuhan untuk Bani Hanilab sama seperti Allah telah mengutus Muhammad bin Abdullah kepada orang Quraisy.

Ada yang mengikuti ajakan Musailimah. Ada juga yang menolak, kemudian bergabung dengan kelompok Muslim di Makkah dan Madinah. Seiring berjalannya waktu, pengikut Musailimah terus berkembang. Dia semakin mampu mengonsolidasikan masyarakat.

Musailimah kemudian menjelma menjadi pemimpin yang dikagumi banyak orang.

Ketika kelompoknya semakin besar, dia memberanikan diri mengirim surat kepada Rasulullah. Surat itu dibawa oleh utusannya.

“Dari Musailimah, utus an Allah kepada Muhammad, utusan Allah. Damai sejahtera bagi kamu. Saya siap untuk berbagi dengan Anda. Saya akan menguasai se paruh wilayah dan Anda akan me miliki separuh lainnya.”

Setelah surat itu dibacakan, Rasulullah kemudian membalas surat Musailimah sebagai berikut.

“Atas nama Tuhan, Menguntungkan, Yang Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah si penipu. Damai sejahtera siapapun yang mengikuti tuntunan. Tuhan akan mewariskan bumi kepada siapa pun dari hamba-Nya yang Dia kehendaki dan kemenangan terakhir adalah bagi orang-orang yang berhati- hati dalam tugas mereka.” Surat itu dibawa oleh utusan Musailimah.

Meski sudah dikirimi surat, Musailimah justru semakin gencar menyebarkan ajarannya. Nabi berusaha mencegah Musailimah dengan mengirim kan surat lagi. Kali ini surat itu harus dibawa oleh orang yang memegang te guh Islam. Sosoknya harus yang ber komitmen dan tidak mudah dirayu apa pun. Rasulullah menilai, sosok tersebut adalah Habib. (AS/Sumb: republika.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here