Home Dunia Islam Hukum, Syarat, dan Rukun Umrah

Hukum, Syarat, dan Rukun Umrah

Ibadah.id –Melakukan suatu ibadah mestilah dipahami dengan baik terkait segala selak-beluk tentang suatu ibadah tersebut, suapaya apa yang dilakukan itu bermakna dan nyampai tujuan. Singkatnya, bukan hanya sekedar melakukan ritual yang bersifat fisik semata, melainkan juga melibatkan apa yang ada di balik penampakan fisik tersebut, melibatkan hal yang spiritual.

Dalam kesempatan kali ini Majalah Ibadah menyuguhkan apa-apa yang mesti diperhatikan dan dipahami terkait dengan ibadah umrah tersebut.

Secara gramatikal, kata umrah bentuk isim dari kata i’timâr yang biasa diartikan sebagai ziârah yang bermakna berkunjung dan qashdu bermakna maksud, tujuan, niat, dan menyengaja. Yakni menyengaja mengunjungi Baitul Haram untuk thawâf, sa’i dan seterusnya. Adapaun secara istilah syariat, umrah adalah “Berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melaksanakan ibadah ihrâm di mîqât, thawâf, sa’i, dan tahalul.

Umrah sebagai suatu bentuk ibadah yang biasa diebut Hajjul Asghar (haji kecil) tentunya memiliki status hukum, syarat, dan rukunnya. Hukum secara bahasa biasa diartikan sebagai kegiatan “menetapkan sesuatu pada sesuatu”. Sedang secara istilah Hukum diartikan sebagai “Khitab (titah) Allah atau sabda nabi Muhammad s.a.w. yang berhubungan dengan segala amal perbuatan mukkalaf (orang yang sudah balig dan berakal), baik titah itu mengandung tuntutan, suruhan atau larangan, atau semata-mata menerangkan kebolehan, atau menjadikan sesuatu itu sebab, atau syarat atau penghalang bagi suatu hukum”.

Sedangkan yang dimaksud dengan syarat ialah “sesuatu yang harus ada atau dipenuhi sebelum mengerjakan sesuatu”. Hal ini mengindikasikan, kalau syarat-syaratnya tak terpenuhi dengan sempurna, maka ibadah  tersebut tidak sah. Sedangkan yang dimaksud dengan rukun adalah “sesuatu yang harus dikerjakan dalam melakukan suatu pekerjaan”. Misalnya ibada umrh, berarti syarat umrah dan rukun umrah itu harus dipenuhi, agar melakukan umrahnya sesuai tujuan yang diharapakan.

Hukum Umrah

Hukum perintah umrah itu disejajarkan dengan hukum haji. Seperti yang tertuang dalam Q.S. al-Baqarah 2:196, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”. Dari ayat ini para ahli fikih berpendapat:

  1. Umrah yang pelaksanaannya bersamaan dengan ibadah haji hukumnya wajib.
  2. Umrah yang pertama kali dilakukan dan tidak bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji hukumnya wajib.
  3. Umrah karena nadzar hukumnya wajib.
  4. Sedangkan umrah yang ke dua kali atau lebih, hukumnya sunah. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah, “Antara satu umrah dengan umrah berikutnya merupakan penebus dosdosa yang ada di antara keduannya….”.

Syarat Wajib Umrah

Syarat wajib umrah atau orang yang mempunyai kewajiban atau diwajibkan untuk melaksanakan ibadah umrah adalah sebagai berikut :

Pertama, Menurut mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabiyah, hanya orang Islam sajalah yang diwajibkan melakukan ibadah umrah, sedangkan orang non-Islam tidak diwajibkan. Namun menurut mazhab Malikiyah, semua orang diwajibakan untuk melakukan umrah, termasuk non-muslim, hanya saja, kalaupun dibolehkan, tetap saja ibadah umrahnya tidak sah, karena bukan muslim.

Sedangkan terkait dengan kasus orang murtad (keluar dari Islam), mazhab Hanafi dan Hambali orang (murtad) tersebut tidak berkewajiban (sunah) melakukan ibadah umrah. Sedangkan mazhab Syafi’i berpendapat, (murtad) itu masih berkewajiban melakukan ibadah umrah. Walaupun begitu, tetap ibadah umrahnya tidak sah sebelum si murtad memluk Islam kembali.

Kedua, Menurut kalangan ahli fikih, katagori balig ini bila berumur 15 tahun atau sudah mimpi basah, atau sudah haid (bagi wanita). jadi jelas, bagi yang tidak masuk dalm katagori tersebut tidak terkena syariat kewajiban melakukan umrah. Jikalau misalnya ada seorang anak-anak melakukan umrah, maka ia tidak masuk dalam kewajiban umrah melainkan termasuk dalam katagori atau dihukumi sebagai umrah sunnah.

Ketiga, Berakal sehat. Orang yang tak berakal atau berfikir sehat menurut katagori ahli kesehatan, maka tak dikenai kewajiban umrah.

Keempat, Bagi hamba sahaya atau budak tak dikenai syariat kewajiban umrah ini. Bagian ini kemungkinan besar zaman sekarang sudah tiada. Kalaupun ada, itu pengecualian.

Kelima, Istithâ’ah atau memiliki kemampuan. Kemampuan di sini meliputi: fisik, harta, dan keamanan.

Baik laki-laki maupu perempuan mempunyai kemampuan kesehatan badan atau fisik. Bagi mazhab Hanafi dan Maliki, orang yang tidak mempunyai kesehatan tak mempunyai kewajiban melaksanakan umrah sebelum sembuh. Dan juga tidak perlu mewakilkan kepada sanak saudaranya. Sedang bagi mazhab Syai’i dan Hanbali, umrah tetap diwajibakan. Artinya kesehatan badan ii tdak termsuk syari’at wajibnya umrah.

Kemampuan harta (transportasi dan akomodasi) untuk keperluan berangkat umrah. Hal ini sebaiknya (menurut sebagaian besar mazhab fikih) sudah terselesaikan persoalan hutang dan ada harta yang ditinggalkan untuk keperluan orang rumah selama ditinggal umrah, begitupun dengan haji.

Sedangkan perjalanan dan pelaksanaan yang aman itu tidak termasuk kedalam kewajiban syariat umrah, menurut mazhab Maliki. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali, keamanan perjalanan dan pelaksanaan umrah itu termamsuk dalam kewajiban syariat umrah. Artinya, kalau keadaan perjalanan ke Makkah atau Makkah sendiri tidak aman, tidak diwajibkan melakukan umrah, sebelum ada masa aman.

Syarat Sah Umrah

Pelaksanaan ibadah umrah itu akan dikatakan sah manakala memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Umrahnya non-muslim itu tidak sah. Hal yang sama juga jika orang muslim melakukan perwakilan umrahnya kepada non-muslim.
  2. Tidak sah ibadah umrah yang dilakukan anak kecil dan orang gila, demikian mazhab Hanafi berpendapat. Sedangkan mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali mengatagorikan, umrahnya anak kecil itu tetap sah, walau sunnah saja, namun ketika sudah dewasa mempunyai kewajiban umrah.

Rukun Umrah

Seperti yang dikatakan di atas, rukun ini adalah sesuatu yang harus dikerjakan pada waktu umrah, dan jika ditinggalkan, umrahnya tidak sah dan juga tidak dapat diganti dengan daam, ditebus dengan membayar dam, puasa, fidyah atau diwakilkan.

Mazhab Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa rukun umrah itu adalah :

  1. Ihrâm,
  2. Thawâf,
  3. Sai’i

Sedangkan menurut Ulama Syâfi’îyah menambahkan:

  1. Tahalul (mencukur rambut),
  2. Tertib (Menertibkan anatara rukun-rukun tersebut. Tidak dibalik-balik).

Sedangkan menurut mazhab Habafî berpendapat, rukun umrah itu hanya satu, yakni thawaf (empat putaran dari tujuh putaran) saja. Sedangkan ihram itu termasuk syarat sahnya umrah. adapaun Sa’i dan tahalul itu termasuk syarat wajib umrah. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here