Home Dunia Islam Rohis Amanah Githa, Bekerja Sepenuh Hati Menuju Ridho Ilahi 

Rohis Amanah Githa, Bekerja Sepenuh Hati Menuju Ridho Ilahi 

Direktur Utama Asuransi Amanah Ghita Salim Al Bakry (kiri) dan Direktur Pemasaran Bunbun Machbub (kanan)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Dalam Islam, orang yang selalu mementingkan ibadah mahdhoh saja (ibadah secara langsung kepada Allah, seperti Shalat, Puasa, Haji dan lainnya) dianggap kurang wajar, walaupun itu menjadi penentu ketakwaan seseorang. Karena di sisi lain, seseorang tersebut mempunyai kewajiban yang tak kalah berat dan mulianya, yakni mencari rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hajat keluarga, minimal untuk dirinya. Di sisi ini, mencari rizki yang halal atau bekerja yang diniatkan karena Allah tak lain adalah bentuk ibadah juga.

Mencari rizki yang halal adalah suatu kewajiban seorang muslim, karena bagaimanapun ibadah-ibadah yang dilakukan itu akan sempurna bilamana badan kita sehat, dan itu akan terpenuhi dengan terpenuhinya makanan yang sehat dan halal. Begitupun dengan pakaian untuk menutup aurat, mestilah terpenuhi, karena itu wajib, baik saat beribadah mahdhoh atau ghair mahdhah.

Di sinilah keistimewaan Islam, bahwa bekerja itu bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dunia semata, seperti makan-minum, berpakaian, refreshing, dan lain sebagainya. Melainkan juga, bekerja itu tak lain adalah salah satu wujud dari ke-iman-an seseorang. Bekerja mencari rizki adalah bentuk ibadah, bahkan menurut perkataan Ibn Ad Dailami, salah seorang periwayat hadis, mengungkapkan “Orang yang paling dicintai Allah adalah ia yang berbuat baik pada keluarganya (salah satunya dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga), dan sebaliknya, Allah paling membenci orang yang mempersulit keluarganya. Bahkan Imam Ghazali mengatakan, “Orang yang bekerja untuk memenihi hak keluarganya (dengan cara yang halal), itu lebih utama dari ibadah badaniyah. Untuk itu hendaknya ia tidak mengabaikan waktunya dari mengingat Allah.

Pada konteks itulah Kerohanian Islam (Rohis) di PT. Asuransi Jiwa Syariah (AJS) Amanahjiwa Giri Artha atau yang lebih dikenal masyarakat dengan brand Amanah Githa menerapkan nilai-nilai ke-Islam-an sebagai budaya perusahaan yang wajib dijalankan direksi dan seluruh karyawannya.

Sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang jasa keungan yang berlabel syariah, sudah barang tentu kegiatan-kegiatan yang bersifat Kerohanian Islam itu melekat dalam diri –sesuatu yang tak dapat dipisahkan.

“Sebagai perusahaan syariah, kegiatan Rohis itu sudah bagian prilaku keseharian kita. Sesuatu yang sudah inheren. Karena bagaiamanapun, kegaiatan dan bisnis yang kita lakukan ini adalah sebuah ibadah,” tegas Direktur Utama Amanah Githa Salim Al Bakry kepada Ibadah.id beberapa waktu yang lalu (10/2017) di ruang kerjanya yang berada di lantai 5 Gedung Menara 165, Jl. T.B. Simatupang kav.1, Cilandak Timur, Jakarta Selatan.

Kegiatan Rutin

Dengan pandangan bahwa seluruh kehidupan ini pada dasrnya hanya untuk ibadah, sebagaimana Firaman Allah “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat 51: 56), maka Amanah Githa sebagai sebuah perusahaan terus berusaha memfasilitasi karyawan, baik waktu maupun tempat, untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu juga menciptakan budaya kerja (kantoran) layaknya sebagai ladang  amal ibadah, bukan sebagai tempat yang kaku dan penuh keterpaksaan.

Suasana Tausiyah dan Pengajian Karyawan Amanh Ghita di Setiap Jumat Pagi

Agar suasana “perkantoran Islami” itu terimplementasi, maka direksi Amanah Githa sejak 5 (lima) tahun yang lalu “pelan-pelan” menerapkan serangkaian aturan pada karyawannya yang kini berjumlah 54 orang. Aturan-aturan itu, baik yang sifatnya instruksi (wajib) maupun yang sifatnya himbauan (sunnah) mesti dilakukan oleh seluruh karyawan.

“Kami menginstruksikan secara tertulis kepada seluruh karyawan untuk konsisten mengaji Alquran satu lembar setiap harinya dan mengerjakan shalat wajib secara berjamaah. Selain itu juga kami menghimbau kepada seluruh karyawan untuk mengerjakan shalat Dhuha, baik di rumah atau ketika tiba di kantor. Berdoa sebelum memulai kerja,” terang pria yang tepat bulan Oktober berusia 59 tahun ini.

Untuk menunjang instruksi itu, perusahaan memberikan Alquran secara gratis kepada setiap karyawan. Khususnya dengan kebijakan ini, “Abah”, panggilan akrab Salim Al Bakry, berharap karyawan bisa memahami dan mentadaburi setiap ayat yang dibacanya sebelum memulai aktivitas kerja.

Setiap Jumat pagi, Amanah Githa rutin mengadakan tausiah atau mengaji kitab yang berkaitan dengan dasar-dasar ke-Islam-an dan mu’amalah. Pengajaian itu langsung dibawakan oleh Dirut (untuk mengaji kitab) atau ustad-ustad yang berkompeten terkait tema tertentu (tausiah tematis). Abah menjelaskan bahwa memahami dan mengamlakan prinsip-prinsip dasar Islam itu wajib bagi setiap umat Islam, terutama soal penerapan Maqâshidusy Syarî’ah (tujuan penerapan syariah) yang terkait Dharuriyyatul Khams (5 kebutuhan penting yang harus dijaga setiap ummat Islam). Dharuriyyatul Khams itu adalah menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.

Terkait dengan aktivitas kerohanian itu, apakah mengganggu atau tidak terhadap kinerja perusahaan, pria asli Cirebon itu mengaku bahwa itu sangat membantu terhadap performa perusahaan. “Kegiatan kerohanian Islam ini sangat tidak mengganggu, bahkan sangat membantu terhadap performa perusahaan. Karena bekerja itu ibadah, mencari amal shaleh, mencari pahala. Mencari keridohan dan keberkahan Allah. Kalau niatnya ikhlas karena Allah, tak menjadi beban. Juga tak perlu diawasi, karena yang ngawasi langsung sisi TV-nya Allah, Malaikat.”

Sedangkan kegiatan tahunan dan tentatif yang rutin melibatkan karyawan Amnah Githa adalah buka puasa bersama, qurban, bakti sosial, donor darah, family and employee gathering, dan lain sebagainya. Kegiatan itu, menurut Abah, selain untuk mempererat antar (keluarga) karyawa, juga untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kepemimpinan itu Keteladanan

Soal kepemimpinan, bagi pria jebolan Kennedy Western University-USA tahun 1993 konsentrasi manajemen ini mengaku terletak pada keteladanannya. “Yang paling penting (seorang pemimpin itu) memberikan contoh kepada karyawan. Dakwah bil hal,” tegas Abah beranak dan bercucu enam ini.

Nabila Nahdi, salah satu karyawan yang menduduki kursi marketing Communication Amanah Githa bercerita kalau Abah selalu menekankan tindakannya, dakwah bil hal –selalu mencontohkan terlebih dahulu baru kemudian dakwah bil qaul (verbal).

“Masya Allah, bapak itu orangnya ramah dan tak pernah marah, selalu senyum. Ketika datang ke kantor, langsung nyamperin karyawan di rungannya masing-masing untuk salaman (jabat tangan), menanyakan kabar, sambil tak lupa memberikan senyum terbaiknya. Dan kalau dinas, beliau selalu mengusahakan di hotel syariah. Menurut saya inilah sosok pemimpin panutan yang tak dapat saya temui di tempat lain,” cerita Nabila dengan nada lembut dan matanya berkaca-kaca karena haru.

Bagi Abah yang paling penting lagi membanggakan adalah sikap para karyawannya yang kian hari kian terlihat teduh dan semakin mensykuri nikmat Allah, apapun bentuknya. “Alhamdulillah dengan keteladanan dan kegiatan kerohanian itu karyawan terlihat rasa syukur akan nikmat Allah begitu besar. Sifat Qanaahnnya (berkecukupan) terus meningkat. Karena bagaimanapun, ukurannya bukan kebendaan belaka, tapi rasa syukur itu yang paling penting. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here